Tangan kami saling menggenggam erat

Air mata yang diam-diam mengalir kemudian dihapusnya

Ah, bahkan kami diam-diam setuju saat ” Apa adanya kamu melengkapi saya”

Butuh waktu khusus untuk menuliskan kesan saya  akan film ini, seperti juga saat menontonnya. Saya dan miswa benar-benar mencari waktu yang tepat untuk menontonnya -suami sempat  batuk tiga minggu- dan jujur aja, film ini tuh mirip benar dengan keadaan saya  dan miswa.

Saya  baca novel test pack tuh sudah lama banget. Makanya, ketika mendengar akan difilmkan,  saya menunggu banget. Ketika membaca novelnya, ngga pernah terlintas dalam benak saya  bahwa someday  akan mengalaminya. Dan ketika pernikahan saya dan miswa memasuki tahun ketiga dan menyadari there’s something wrong with us hingga akhirnya kita belum memiliki anak. Dan kesimpulan bahwa saya  PCOs membuat saya  mau ngga mau menerima kenyataan ini, yang menguatkan saya  adalah novel test pack ini.

Berbeda dengan Tata dan Rahmat, dimana Rahmat yang mengalami ketidaksuburan, posisinya yang sering disalahkan justru gue. Jangan tanya gimana perasaan gue, sedih iya. Meski PCOs bukan vonis mati, setidaknya gue harus berusaha keras untuk punya anak, dan jangan ragukan  itu, gue sedang melakukannya.

Maka ketika adegan demi adegan yang menggambarkan hubungan Tata yang diperankan Acha Septriasa dengan Rahmat yang diperankan Reza, gue dan Miswa seperti berkaca. Jujur gue menangis sesenggukan saat diketahui Rahmat ternyata tidak subur, sama menangisnya saat dokter di beberapa tempat menyebut gue PCOs. Bedanya gue sama miswa ngga berantem, dan malah dia sering memeluk dan menenangkan gue. Bedanya antara gue dan miswa ngga ada Shinta, bedanya antara gue dan Miswa ngga perlu ada kabur-kaburan dan mau cerai. Meski gue sempat takut hal ini akan terjadi.

Gue suka saat adegan Rahmat berusaha menghibur Tata yang terkejut saat haid. Sementara saat adegan Tata disuntikkan, mengingatkan gue saat miswa menyiapkan obat dan vitamin yang harus gue minum.

Pengadeganan di film ini bikin gue mengacungkan jempol pada Adhitya Mulya dan Monty Tiwa, juga jangan lupakan peran Ninit Yunita, yang menuliskan novel ini.

Film ini kemudian makin membuat gue sadar, bahwa gue ngga sendirian saat berjuang menjadi seorang Ibu. Ada jutaan perempuan lain diluar sana yang bernasib seperti gue, bukan cuma karena faktor pasangannya tapi bisa juga karena faktor dari dirinya. Trus, masa iya karena begitu mau cerai? Berjuang, pantang menyerah!!!!

Gue suka banget chemistry antara Reza dan Acha. Suka saat mereka saling menguatkan, saling memeluk. Dan mengecup mesra. Yang bikin sirik adalah rumahnya!!!!

Ketika menonton film ini, gue nanngis sesenggukan -iya gue cengeng- dan miswa berusaha menghapus air mata gue dan kemudian menggenggam tangan gue. Duh gue jadi merasa haru. Apalagi saat Reza bilang, “Apa adanya kamu melengkapi saya,”. Jad ingat saat miswa bilang bahwa ,”kita nikah karena saling menyayangi, saling mencintai. Perkara mau punya anak atau ngga, itu rencana lain. Yang penting kita bersatu, jadi suami istri,” duh mau mewek jadinyah….

kamu juga sudah nonton film ini?

Written by memez
Diary about my daily life, inspiring story, entrepreneur and the latest trend

    2 Comments

  1. bebe 12/10/2012 at 6:15 pm

    Huaaaaa.. suka banget itu kata2 suaminyaa yang bagian terakhir..

    • memez 22/10/2012 at 1:03 pm

      Hikssss… pas dia ngomong begitu, akyu menangisss…