Sejujurnya, saya seringkali berpikir ratusan kali jika akan berwisata di dalam negeri. Apalagi masalahnya kalau bukan masalah digetok harga. rasanya sakit sekali. sama saudara sendiri kok begitu, bagaimana dengan wisatawan mancanegara? dan inilah curhat saya karena sakit hati ditipu di Bunaken Manado.

26-30 Juni 2010 saya beriwisata sambil liputan di Manado. karena yang mengajak memercayakan agenda perjalanan ke saya, maka pada Senin 29 Juni 2010 saya dan rombongan yang berjumlah 12 orang pergi ke Bunaken yang demikian tersohor itu.

Dari hotel Ritzy tempat kami menginap, kami pegi ke sebuah dermaga kecil untuk pergi ke Bunaken. Dengan sebuah perahu yang mirip perahu nelayan -dan disewa seharga 800 ribu rupiah- rombongan pergi ke Bunaken. Setelah mengarungi lautan hampir satu jam, sampailah di tempat yang oleh pemilik perahu disebuit Bunaken. Oalah… saya pun terkesima. masa iya tempat yang demikian termasyhur ini sepi sekali, hanya ada kira-kira 15 orang turis selain kami. Saya masih berpikir positif, mungkin ini sisi lain dari Bunaken. Perut yang lapar membuat rombongan kami makan di sebuah rumah makan -yang cuma satu-satunya disitu- 12 porsi nasi  dengan 5 macam ikan (masing-masing satu) tumis kangkung 4 piring, pisang goreng 1 piring, teh botol, aqua dingin, sukun goreng 2 piring  harus dibayar dengan 1,5 juta rupiah.  Sesak langsung dada saya. Rasanya tak sebanding dengan Bandar Jakarta di Ancol itu.

Selesai isi perut walau hati dongkol, saya dan 7 orang teman lainnya snorkling. Sewa wet suit 50 ribu, shark fin dan kacamata 60 ribu. Karena salah satu teman saya tidak muat wet suitnya maka hanya tujuh orang saja yang mengenakan. dengan perahu yang disewa tadi, perahu bergeser kira-kira 100 meter. Lagi-lagi saya bertanya dimana letak keramaian Bunaken. Lagi-lagi pemilik perahu bersikukuh inilah Bunaken yang tersohor itu. Selesai snorkling selama satu jam, rombongan kembali ke tepi pantai. Dan lagi-lagi saya bertambah dongkol saat disodori bon :

8 Wet Suit x 50.000                       = 400.000

10 Shark Fin + Kacamata x 60.000 = 600.000

6 Pelampung x 10.000                    =   60.000+

Total Rp. 1.060.00

saya pun protes, karena hitungan saya hanya 830ribu. Namun, pengelolanya berkilah bahwa dua operator perahu juga disewakan. Hitung-hitung sebagai pemandu. Alamak…Yang lebih mengherankan, pelampung alias life jacket bukannya fasilitas yang harus ada di setiap perahu? lalu mengapa harus menyewa lagi? dan dua operator perahu tersebut juga makan dan tagihannya dimasukkan ke rombongan kami.

Saya menyesal, saya kecewa. rasanya kok seperti ditipu saudara sendiri ya? Dan lagi-lagi ketika saya meminta perahu bergeser ke Bunaken sesungguhnya, operatornya berkilah sudah terlalu malam. hmmm… meski kecewa saya pun lantas membandingkan dengan pelayanan saat saya mengikuti tur Phi-phi Island Pertengahan April 2010 silam.

paket tur phi-phi Island sehari penuh hanya 1400 baht dengan kurs 300rupiah per baht, berarti 420 ribu. Dengan fasilitas :

– jemput-antar dari dan ke Hotel, mobilnya nyaman.

– Kopi, Teh, air mineral dan cemilan saat menunggu kapal di dermaga.

– peralatan snorkling

– Minuman dan cemilan sepuasnya selama perjalanan di laut, dengan kapal yang jauh lebih bagus. Seperti boat besar.

– Keliling empat pulau.

– makan sepuasnya di Phi-phi island.

– Buah semangka dan nanas selama tur.

Bandingkan dengan yang disebut sebagai Bunaken, miris sekali. Makanya jangan heran kalau pariwisata Indonesia stagnan, jalan di tempat. Karena ada oknum yang mencari keuntungan kemudian merugikan orang banyak yang berusaha sebaik-baiknya.

Written by memez
Diary about my daily life, inspiring story, entrepreneur and the latest trend

Comments are closed.