Buat yang sudah baca postingan saya bahwa saya tiba-tiba hamil dan ngga sadar meski sudah hampir dua bulan ngga mens, Mungkin akan bertanya, kok bisa ngga sadar hamil? Ya karena beberapa kali ngga mens lebih dari sebulan dan ngga hamil juga, makanya biasa saja. Plus, beberapa kali ada salah satu dokter spesialis penyakit dalam mengatakan bahwa dengan kadar gula berlebih, saya ngga akan hamil.

Maka…. sesungguhnya saya dan Suami sudah ada di titik pasrah dan berusaha ikhlas.

Bahkan, Selasa malam saat belum tahu kalau saya hamil, Suami dan Saya sudah berencana untuk mengadopsi anak.

Sungguh… saya dan Suami sudah sepasrah itu….

Tanpa kami tahu, bahwa Allah punya rencana yang indah buat kami….

Meski kemudian kami akhirnya menangis lagi, karena sedih luar biasa….

Oiya, buat yang belum tahu atau belum kenal saya, kondisi kesehatan saya memang bisa dibilang complicated. Saya mengalami PCOs, atau Sindrom polikistik ovarium (PCOS) adalah penyakit ketika ovum atau sel telur pada perempuan tidak berkembang secara normal karena ketidakseimbangan hormon. Beberapa perempuan mengalami siklus menstruasi tidak teratur, beberapa bahkan berbulan-bulan atau setahun sekali mens. Tapi, Alhamdulillahnya selama ini saya mens teratur. Maksimal, saya ngga mens itu hanya sekitar 35 hari, biasanya karena saya stress. Tapi, ketika saya release stress, saya mens.

Trus, saya juga mengalami yang namanya ASA Tinggi. Apa sih ASA itu? jadi, ASA  adalah Antibody Sperm Autoimmune, sebuah kondisi dimana tubuh wanita mengalami peningkatan antibodi terhadap sperma atau apapun yang masuk ke dalam tubuh saya. Tapi, sekitar dua tahun lalu, saya pernah melakukan terapi di RS Sayyidah Jakarta Timur untuk menurunkan kadar ASA ini. Nanti akan saya tulis di postingan lain tentang treatment menurunkan ASA ini. Setelah terapi ini, ASA saya turun normal.

 

Dan yang lebih ngga enak lagi adalah saya penderita diabetes. Sering ada yang bertanya, diabetes basah atau kering. Setahu saya ngga ada istilah ini, adanya hanya Tipe I dan Tipe II. Saya masuk Tipe II, yang sebenarnya kadar gula saya bisa dalam keadaan normal, jika saya makan dan minum yang benar, juga rutin mengkonsumsi obat. Yup, saya memang rutin minum obat, ada tiga macam obat yang saya konsumsi, dua kali sehari.

Nah, dengan kondisi demikian, rasanya amat mustahil kalau saya bisa hamil alami.

Tapi… namanya manusia, ngga tahu yang namanya rahasia Allah. Rencana Sang Pencipta, Sang Maha Kuasa.

Maka, ketika akhirnya saya dinyatakan hamil, saya gembira luar biasa. Saya langsung stop mengkonsumsi obat diabetes, yang biasanya saya konsumsi dua kali sehari.

Saat hari Rabu 4 Desember 2019, saya tahu saya hamil. Maka, di hari Jumat, 6 Desember, saya langsung menemui dr Indah, dokter spesialis penyakit dalam di Rumah Sakit Mitra Keluarga Depok. Padahal, baru dua minggu sebelumnya saya konsultasi dan bertanya, apakah kadar gula darah yang tinggi bisa mempengaruhi tidak mens? Kata dr Indah Gianawati Sp.PD, bisa saja karena mempengaruhi hormon juga. Lalu, saat berkonsultasi lagi saat saya tahu hamil, dokter Indah mengganti obat saya dengan suntikan insulin, yang dimulai dari dosis 8cc. Nah, Insulin ini bisa disuntikkan di beberapa bagian tubuh. Tapi, pilih satu saja yang mudah dilakukan. Dan insulin ini disuntikkan, misalnya 10 menit sebelum makan.

Nah, mengingat kondisi saya, dimana hamil dengan kondisi gula darah tinggi, dokter Indah menganjurkan agar selama kehamilan, saya tetap kontrol dan rutin memeriksakan kadar gula darah. Tadinya, saya dan Suami berencana mau memeriksakan kehamilan dan melakukan persalinan di Rumah Sakit Bunda Depok. Namun, dengan kondisi demikian akhirnya kami memutuskan untuk tetap memeriksakan kehamilan sekaligus cek diabetes di Ruamh sakit Mitra Keluarga Depok. Oiya, di hari itu, saya konsultasi ke dokter Indah, ditemani oleh Ibu mertua karena di hari Jumat Saumi masih bekerja, sementara saya libur.

 

Keguguran Itu Sedihnya Dan Sakitnya Luar Biasa….

Hari Sabtu, 7 Desember 2019, rencananya saya dan Suami akan konsultasi ke dokter kandungan di Rumah Sakit Mitra Keluarga Depok, dan kami bersepakat untuk konsultasi ke dokter Sofani Munzilla, setelah mendengar pengalaman beberapa teman. Sesungguhnya tidak ada yang aneh pagi itu, di pukul delapan pagi, Suami meminta saya bersiap-siap sambil mengingatkan bahwa nanti akan antre.

Saat saya masuk ke kamar mandi dan hendak Buang Air Kecil, tiba-tiba saya mengalami pendarahan. Tidak ada rasa sakit ataupun mulas. Yang ada saya kemudian panik melihat darah berjatuhan dari rahim. Langsung saya menangis, buru-buru berpakaian dan langsung menuju rumah sakit Mitra Keluarga. Saya mengingat benar, bagaimana Suami berusaha mengemudikan mobil dengan cepat sambil berusaha menenangkan saya yang menangis karena panik. Saya tahu dia juga panik, beberapa kalimat sugesti positif kemudian dia ucapkan berkali-kali. ” Ini mungkin perlengketan rahim, wajar terjadi di kehamilan awal,” kata Suami. Atau kata-kata,”Ikhlas Istri, kita sudah berusaha terbaik, Aku Ikhlas. Apapun yang terjadi, Aku tetap dan selalu ada di samping kamu, melindungi kamu,” katanya.

Seharusnya saya bahagia mendengar kata-kata itu….

Tapi…. sulit rasanya, mengingat janin yang saya kandung ini, sudah kami nantikan selama 10 tahun 8 bulan.

Sampai di rumah sakit, saya dapat antrean nomor 26. Sungguh akan amat sangat lama kalau saya menanti.

Kemudian saya dibawa ke IGD, pakaian dalam saya diganti dengan diapers. Susternya juga berusaha menenangkan saya, bahwa ikhlas hanya satu-satunya jalan terbaik buat saya saat itu. Saat dipakaikan diapers, pendarahan berhenti. Saya pun kemudian diberikan obat penguat rahim yang dimasukkan lewat anus. Sungguh saya ngga bisa berbuat apapun, selain hanya berdoa, meminta keajaiban agar janin ini tetap berada dalam rahim saya.

Tapi… rencana Allah rupanya berkata lain…… #SAD

 

Setelah lebih dari tiga jam menanti, akhirnya saya diperiksa oleh dokter Sofani. Pertama, saya diUSG di atas rahim dan perut. Ternyata janinnya berhenti tumbuh. Tidak ada lagi detak jantungnya, tidak seperti saat saya pertama kali periksa di dokter Elsa Fury. Tangis saya pun pecah…. Ini menjadi momen tersedih kedua setelah Mamah saya meninggal dunia pada Maret 2014. Suami pun meminta penjelasan dokter Sofani, yang kemudian melakukan USG Transvaginal, agar lebih yakin dengan kondisi saya.

Yup, saya keguguran.

Janinnya tidak berkembang sempurna,

Bahkan….

Sudah ada jalan lahirnya.

Saya pun menangis kencang, sedih luar biasa.

Suami pun memeluk saya kian erat. Mencium saya, berusaha menenangkan saya yang tengah kalut.

Dokter Sofani meminta saya lebih tenang dan ikhlas menerimanya. Sambil menjelaskan bahwa bentuk janin tidak sempurna, karena salah satunya pengaruh dari tingginya kadar gula darah yang saya alami. Karena itu, jika kelak ingin hamil lagi, saya harus mempersiapkan diri.

Tiba-tiba, perut saya rasanya mules dan sakit sekali. Saya pun buru-buru ke kamar mandi di rumah sakit, dan kemudian menangis sejadi-jadinya di dalam bilik toilet. Pendarahannya kian banyak dan saya merasakan seperti ada yang keluar, mungkin ini janinnya yang ukurannya belum sampai lima sentimeter. Rasanya sungguh sakit sekali. Tapi, saya merasa tak bisa berbuat apapun saat itu.

Setelah menerima kenyataan bahwa saya keguguran, mengalami pendarahan dan sepertinya janinnya keluar di rumah sakit. Saya, Suami dan seorang tante yang datang untuk menemani saya, kemudian pulang ke rumah. Di tengah jalan, Suami saya menangis. Saya tahu hatinya sedih sekali dan dia merasa tidak bisa menangis, demi terlihat tegar di depan saya. Tapi, saya kemudian memeluknya dan menjelaskan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Peristiwa keguguran yang saya alami, kemudian mendatangkan gelombang silaturahmi ke rumah saya. Banyak handai taulan datang. Tak hanya itu, banyak rekan, sahabat dari berbagai penjuru dunia, bahkan mengirimkan pesan di FB, Instagram sampai WhatsApp untuk menyampaikan rasa simpati mereka atas keguguran yang saya alami. Sungguh saya merasa sangat beruntung bahwa begitu banyak yang mendoakan dan memperhatikan saya dan Suami.

Hari-hari setelah keguguran tentu tak mudah. Saya kemudian banyak minum jamu kunyit asem untuk menuntaskan pendarahan nifas. Tante saya kemudian memasangkan angkin atau gurita, yang memasangnya tentu tak mudah. Karena tak bisa memasang sendiri, akhirnya saya membeli Bamboo Korset Moimom dari Mba Tetty Tanoyo. Dan ternyata nyaman sekali.

 

Pemulihan Fisik Dan Psikis PascaKeguguran

Setelah mengalami keguguran, saya memiliki hak untuk cuti selama 1,5 bulan atau sekitar 45 hari. Menurut  UU Ketenagakerjaan No 13 Tahun 2003,  Pekerja Perempuan memiliki hak cuti keguguran itu selama 45 hari dan tetap dibayar penuh. Nah, keguguran itu definisinya menurut Dr. Chrisdiono M Achadiat Sp.OG, adalah proses berakhirnya suatu kehamilan di mana janin belum mampu hidup di luar rahim dengan kriteria usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. tapi, kalau melahirkan prematur di mana usia kandungan melebihi 20 minggu, tidak masuk dalam kategori dan hak cutinya diberikan akumulatif selama tiga bulan. Atau dianggap sama seperti melahirkan. Sementara buat Suami, mendapatkan cuti selama dua hari.

Beruntung saya, atasan dan rekan kerja begitu mendukung saya melewati masa sulit ini. Saya diberikan hak untuk menikmati masa cuti saya tanpa diganggu dengan kewajiban pekerjaan apapun #Happy Terima kasih tak terhingga buat atasan dan rekan kerja di tv berita merah yaaa….

Setelah peristiwa keguguran pada 7 Desember 2019 itu, saya mengalami masa nifas hingga sepuluh hari. Tadinya, fisik saya lemah banget. Maunya tiduran, rebahan dan ngga mau kemana-mana rasanya. Jerawat di wajah saya bahkan jadi banyak banget. Konon, ini pengaruh hormon masa awal melahirkan. Perlahan, fisik saya membaik. Dua minggu kemudian, saya kontrol ke dokter Sofani Munzila, dan dari hasil pemeriksaan USG Transvaginal, darahnya sudah bersih dan rahimnya mulai mengecil. Saya pun diberi vitamin asam folat untuk persiapan kehamilan selanjutnya.

Meski kondisi fisik saya mulai membaik, sesungguhnya penyembuhan psikis lebih sulit. Kalau lagi sendirian, atau lagi ngga melakukan apapun, saya refleks mengelus perut dan terasa janinnya seperti masih ada… yang kemudian berakhir menangis lagi. Maka, saya pun berusaha melakukan healing dengan berbagai hal. Sibuk silaturahmi, sibuk pindahan rumah, sibuk merencanakan banyak hal, dan berusaha belajar ikhlas menerima rencana dari Sang Maha Pencipta.

Kini, saya berusaha terus untuk menurunkan kadar gula darah, memilah makanan dan minuman yang bisa dikonsumsi demi persiapan kehamilan berikutnya. Kalau kata dokter Sofani sih sebaiknya 2-3 bulan rahimnya dibiarkan istirahat dulu. Maka, saya melakukan pencegahan supaya tidak hamil dahulu, karena biasanya kalau sudah pernah hamil dan keguguran begini, akan lebih cepat dan mudah hamil alami.

Jadi…. tolong doakan saya yaaa…… Biar bisa sehat dan bisa segera hamil dengan alami….

 

 

 

Written by memez
Diary about my daily life, inspiring story, entrepreneur and the latest trend

    2 Comments

  1. Yessi 13/01/2020 at 11:48 pm Reply

    Mba, turut sedih bacanya.. πŸ™ sy doakan yg terbaik buat mba memez dan suami.. Tuhan pasti berikan yg terbaik pada waktuNya.. semangat mba! πŸ™‚

  2. Antie.info 24/01/2020 at 5:29 pm Reply

    MasyaAllah… tegar sekali mbak dalam menghadapi ujian dari Allah. Semoga Allah memberikan yang terbaik ya mbak. Semoga secepatnya mbak bisa pulih dan bisa segera diberikan momongan. Aamiin YRA.

Leave a Comment




This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.