Sesungguhnya saya masih berada dalam fase menata hati dan perasaan.

Masih diliputi perasaan menyesal sekaligus kehilangan mendalam

Perjalanan waktu kian mengukuhkan, Ia wanita sempurna yang dikirimkan Allah untuk kami

Ya, sesungguhnya saya masih dalam suasana duka. Ibunda saya akhirnya berpulang ke pelukan sang pencipta pada Jumat, 7 maret silam pada pukul 12 lewat 15 menit.

Sesungguhnya, hari kamis itu Mamah benar-benar drop. Bagian pahanya membengkak sampai beliau merasa kesakitan. Terapis langganan yang biasanya memijat Mamah dan kemudian membuat kondisinya membaik, tak kunjung membuat sakitnya mereda.

Dan saya merasa bodoh, egois sekaligus menyesal. Sakit thypus yang saya rasakan sejak beberapa hari sebelumnya, tak membuat saya buru-buru melihatnya, praktis hari kamis itu seharian saya tak melihat Mamah. Usai pulang dari rumah sakit pukul setengah duabelas malam di hari kamis, saya baru sempat menengoknya dan kemudian ikut membopongnya ke mobil karena Papah saya memutuskan untuk membawa ke rumah sakit.

Saya yang melihat kondisi Mamah kian memburuk kemudian memutuskan untuk menelepon tante,om dan keluarga besar. Meminta mereka turut berdoa. Berdoa yang terbaik, karena kami tahu Mamah sudah berjuang melawan penyakitnya hampir setahun silam.

Di rumah, saya, Dea (adik saya nomor dua), Bimo (adik saya nomor empat) berdoa tak pernah putus, sambil menanti kabar dari Noni (adik saya nomor tiga) yang pergi ke Rumah  Sakit. Tak sampai setengah jam Noni mengabarkan bahwa Mamah telah berpulang, dipelukan Papah saya, sambil diiringi ucapan syahadat dan asmaul husna dari suami Noni yang turut mengantarnya.

Tangis kami pun pecah. Rasa sakit karena Thypus yang tengah bersarang di tubuh saya tak lagi saya rasakan. Saya buru-buru memberi tahu sejumlah tetangga terdekat, untuk menyiapkan rumah kami, untuk menyambut jenazah Mamah.

Sungguh, ditengah kesedihan dan hiruk pikuk kesibukan, sesungguhnya saya merasa hampa luar biasa. Saya benar-benar merasa sangat patah hati sekaligus tak percaya momen yang saya takutkan selama ini akhirnya tiba juga.

Selama ini, saya tak pernah mempersiapkan diri jika kelak saya ataupun salah satu anggota keluarga akan kembali ke pelukan sang pencipta. Saya tak tahu apa saja yang harus disiapkan, bagaimana tenda, kursi, hingga bendera kuning harus disiapkan. Beruntung saya, tetangga sekitar rumah benar-benar membantu. Apalagi, mereka merasa Mamah saya bukan sekedar tetangga, tapi sudah seperti saudara.

Ketika jenazah Mamah sampai di rumah, sebuah kasur dan sejumlah kain sudah disiapkan. Sungguh saya seperti bermimpi, mimpi yang luar biasa buruk. Tak pernah saya bayangkan, wanita kuat, tegar dan begitu sempurna itu sudah terbujur kaku di ruang tengah rumah kami, tempat Ia biasa menghilangkan rasa sakitnya dengan menonton tivi atau dipijat.

Isak tangis dari saya, adik-adik serta saudara kemudian berganti dengan alunan ayat suci alquran. Kami sadar, sehebat apapun tangisan yang kami keluarkan, takkan mengembalikan Mamah. Karena kami juga tahu, Mamah sudah tenang dan bahagia di pelukan sang pencipta.

Namun, ternyata saya tak sekuat yang saya kira. Ketika Mamah dimandikan dan kemudian dikafani, tangis saya kembali pecah. Sungguh saya menyesal, saya merasa kurang memperhatikan Mamah. Saya merindukan masa-masa ketika saya mengantar Mamah ke RSCM, ketika mencarikannya sarapan dan ketika curhat dan ngobrol apapun dengannya.

Ketika Mamah dikafani dan saya diberi kesempatan untuk menciumnya terakhir kali, saya bisikkan kepadanya, “Mah, I love u so much. Mamah hebat banget, Mamah kuat, Mba Mez minta maaf,” -Menulis ini membuat saya lagi-lagi menangis-

Usai sholat jumat, jenazah Mamah disholati dengan jamaah yang cukup banyak, dan subhanallah, ketika di pemakaman, cukup banyak yang mengantarnya. kebahagiaan saya dengan banyaknya orang yang begitu memperhatikan Mamah kemudian berganti tangis. Ya, lagi-lagi tangis saya pecah ketika Mamah dimakamkan. Adalah Bimo, adik saya yang kemudian berusaha menghibur saya.

Acara pengajian lagi-lagi membuat saya tak kuasa menahan kesedihan. Saya selalu teringat, setiap ada kenalan atau saudara yang menggelar pengajian seperti ini, Mamah selalu menganjurkan kami untuk memberikan sumbangan agar meringankan beban keluarga yang ditinggalkan.

Dan Alhamdulillah, ketika pengajian tiga hari dan nujuh hari, banyak sekali kenalan, saudara yang memberikan perhatian dan membawakan sesuatu. Ketika pengajian nujuh hari, Papah yang tak mau melihat kerepotan di rumah kemudian meminta saya untuk memesan nasi kotak. Sungguh, ketika saya memesan nasi kotak di Resto Padang langganan, saya seperti teriris sembilu. Betapa tidak, biasanya saya dan Mamah menerima pesanan nasi kotak. Namun, kali ini saya yang justru memesan ke orang lain, untuk acara pengajian Mamah.

Perjalanan waktu kemudian membuat saya, mau tak mau harus ikhlas dan ridho dengan kepergian Mamah. Saya tahu ini keputusan terbaik dari Allah sang maha pencipta, yang lebih sayang Mamah, yang membebaskan Mamah dari segala rasa sakitnya selama ini. Saya pun teringat, wajah Mamah tersenyum bahagia dan begitu lepas ketika dikafani.

Sepeninggal Mamah, hidup kami menjadi begitu berbeda. Hanya ada Papah dan Bimo di rumah, yang kemudian membuat saya meminta agar Noni beserta suami dan anaknya kembali ke rumah.

Lebih dari dua minggu sepeninggal Mamah, saya dan adik-adik menjadi begitu sering diingatkan akan kebaikan-kebaikan Mamah. Mulai dari teman-teman dan tamu-tamu yang tak kunjung berhenti untuk sekedar menyampaikan rasa duka atau juga membawakan buah tangan.

Di tengah kehampaan hati yang saya rasakan karena kepergian Mamah, untaian doa yang tak pernah putus selalu saya panjatkan. Saya selalu mengingatnya sebagai wanita yang begitu hebat. Mamah itu dari ngga bisa masak, baca dari majalah atau buku hingga bisa masak, dan kemudian bisa mencari uang dari memasak. Kenangan akan Mamah tentu tak akan pernah pupus dari ingatan. Tak akan pernah bisa saya lupakan, ucapannya yang selalu memotivasi sekaligus menenangkan.

Kepergian Mamah yang begitu cepat kemudian mengingatkan saya kenangan-kenangan di hari-hari akhirnya. Saya ingat sekali, 40 hari sebelum kepergiannya, saya, Miswa, adik-adik, serta keponakan saya makan bersama di sebuah warung sate dekat rumah. Mamah beralasan ingin makan bersama Papah, anak, menantu serta cucunya. Sayang, momen ini tak sempat saya abadikan dalam foto karena lagi-lagi saya kurang sensitif. Saat itu, Mamah makan demikian lahap dan seperti tak merasakan sakit.

Selamat jalan wanita sempurna….. Mah, I love u so much. Sekarang Mamah sudah tenang dan bahagia di sana. Sudah bisa berkumpul dengan Nenek, kakek, Mbah Putri juga  Mbah Kakung.

 

 

 

Written by memez
Diary about my daily life, inspiring story, entrepreneur and the latest trend

    7 Comments

  1. Indah Kurniawaty 22/03/2014 at 2:04 pm

    *peluk Mbak Memez*
    Aku pernah ngalamin sama kayak dialami Mbak Memez. Walaupun kita tau bahwa suatu saat orang-orang tercinta akan meninggalkan kita, tetep aja ketika hari itu datang, kita masih belum siap untuk menerimanya. Aku juga belajar cara memandikan jenazah dan mengkafankan jenazah waktu pengajian Cihuyers bareng Della sama Mbak Indadari.

    Mama udah tenang di sana Mbak Mez. Walopun jasad orang yang kita cintai udah gak di sini, tapi kenangan yang pernah kita lewatin bersamanya akan terus hidup selama kita masih mengingatnya.
    Aish, aku jadi ikutan mellow.

    • memez 22/03/2014 at 10:40 pm

      Hiks hiks… jadi mbrebes mili lagi 🙂
      Iya Indah makasih atas supportnya. Aku sudah benar-benar ikhlas dan meyakini Mamahku di surga sudah bahagia 🙂

  2. santiariastuti 24/03/2014 at 8:55 am

    turut berduka ya mbak memez..
    semoga mamah mbak memez diterima di sisi Alloh, dimaafkan dari segala khilaf dan salah, diterima semua amal ibadah dan ditempatkan di tempat yang damai dan indah, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya.
    untuk keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan kekuatan dan keihklasan ya mbak 🙂

  3. arninta 03/04/2014 at 11:51 am

    mba memez, entah knp blogku error ak kira ga pernah ada update d rblogmu..baru baca ini 🙁 turut berduka cita sedalam2nya ya mba…*peluk dr jauh*

    • memez 04/04/2014 at 8:48 am

      Iya makasih ya Ninta, terima kasih doanya dan perhatiannya #peluk jugaaa

  4. dani 15/04/2014 at 12:50 pm

    turut berduka cita ya Mba Memez sedalam-dalamnya ya Mba. Semoga rahmat selalu tercurahkan untuk almarhumah..

    maaf baru baca dari postingan setelahnya. baru tahu pas sampe postingan ini…

    • memez 21/04/2014 at 8:12 am

      Terima kasih ya Dani 🙂