Kadang, kita bisa belajar tentang sesuatu, 

Di tempat yang tidak kita sadari……. 

Dan, saya belajar tentang kesetiaan di penerbangan JKT-Taiwan

Dari perjalanan abu seorang pria yang kembali ke tanah air tercinta

Saya baru saja menjatuhkan tubuh saya di kursi pesawat saat Tante Kim memperkenalkan diri. Perempuan berusia 77 tahun ini merupakan warga negara Indonesia yang hendak kembali ke tempat tinggalnya  di San Fransisco, Amerika Serikat.

Lima setengah jam perjalanan dari Jakarta ke Taiwan, saya dan Tante Kim tak henti ngobrol dan berbagi kisah akan kehidupan kami. Tante Kim yang sudah limapuluh lima tahun menikah dengan suaminya, benar-benar hanya menghabiskan waktu berdua saja. Sepanjang pernikahannya, beliau tidak dikaruniai anak. Makanya, beliau berulangkali membesarkan hati saya yang sudah hampir lima tahun menanti anak.

Tante Kim berkisah, Ia dinikahi suaminya saat berusia 21 tahun dan kemudian diajak merantau ke Brazil. Saya sampai tercengang, membayangkan betapa hebat dan berani sang Suami. Meninggalkan Indonesia dan kemudian merantau ke negara yang mungkin terdengar antah berantah saat itu. Tapi, dengan segenap keberanian,  suami tante Kim benar-benar membuktikan bahwa he’s a good one. Perjuangannya di Brazil berhasil.

Suatu waktu, mereka memutuskan untuk  hijrah ke San Fransisco, memulai hidup baru dan kembali berjuang. Sepanjang 55 tahun menikah dengan suaminya, Tante Kim benar-benar hanya berdua, dan tak pernah terpisahkan sama sekali, kecuali ketika sedang bekerja.

Obrolan dengan saya membuatnya mengenang akan segala peristiwa yang telah dilaluinya dengan sang suami. Ia pun teringat kebiasaan suami yang selalu menungguinya setiap pulang kerja dan pulang berdua sambil bergandengan tangan.

Kebiasaan bergandengan tangan selalu dilakukan suaminya, mulai ketika tidur, menonton tv di rumah sampai ketika jalan berdua. ” You’re my greatest gift from GOD,” kata suaminya, yang selalu diucapkan selama 55 tahun pernikahannya. “Ia seakan-akan selalu takut kehilangan saya, atau bahkan saya meninggalkan dia,” kata Tante Kim. Berdua menjalani kehidupan, membuat mereka benar-benar saling mengenal, memahami dan mengerti satu sama lain. Dari perjalanan waktu dan mengunjungi  berbagai belahan dunia yang berkali-kali mereka lakukan, mereka makin menyadari, bahwa mereka tercipta untuk saling melengkapi.

Saya pun sempat bertanya, tidak adakah godaan atau kesempatan untuk tidak setia? “Semua godaan dan kesempatan itu ada, tergantung bagaimana kita menyikapi dan menghindarinya,” tegas Tante Kim. Ia dan suaminya punya cara bagaimana terhindar dari godaan dan kesempatan untuk tidak setia alias perselingkuhan yang belakangan begitu marak pada pasangan muda.

Yang dilakukannya adalah : berdoa bersama, kemana-mana selalu bersama,buang jauh-jauh rasa egois,  jujur,berprasangka baik dengan pasangan dan terbuka tentang apapun dengannya. Sesungguhnya saran yang mudah tapi begitu sulit untuk dijalani saat ini.

Bayang bayang proses perceraian yang tengah dijalani beberapa orang teman, membuat saya mengelus dada. Mereka harus belajar bagaimana tentang setia dan menjaga kesetiaan itu sendiri.

Cukup lama saya menghabiskan waktu untuk mengobrol dengannya, hingga saya pun bertanya kemana suaminya, kok tidak mendampinginya? “Suami saya baru meninggal lima bulan lalu, saya pergi ke Indonesia untuk menabur abunya di laut Indonesia, sesuai keinginannya,” jawab Tante Kim dengan santai, tanpa air mata. Jawaban ini kemudian membuat saya tercekat.

Lima puluh lima tahun bersama dan tak terpisahkan, terbayang bagaimana Ia harus menjalani penerbangan lebih  dari 20 jam, demi menjalankan amanat suaminya, yang membuatnya tak lagi memiliki peninggalan akan abu suaminya. Tentu ini perjalanan berat baginya. Jika dahulu mereka duduk berdampingan di pesawat, kini Ia berpisah dengan suaminya yang berada di bagasi.

“Waktu Suami hendak menghembuskan nafas terakhirnya, Ia memegang terus tangan saya. Dan bilang terus menerus kalau Ia telah menitipkan saya pada sang pencipta untuk terus menjaga saya,” kenang Tante Kim. Saya pun heran mengapa Ia tak menangis atau pun meneteskan air mata ketika mengenang kisah ini. “Masa sedih saya sudah lewat, kalau saya sedih, Ia juga akan sedih. Maka, saya hanya harus melanjutkan kehidupan sampai saatnya saya bisa bertemu dengannya,” lanjut Tante Kim.

Tante Kim pun tak memungkiri jika kerap disergap kerinduan akan sosok sang suami tercinta. Saat abu tersebut masih ada, Ia kerap berbicara di depannya dan menumpahkan keresahannya. Tapi, masa-masa sulit itu telah dilewatinya.

Obrolan kami yang begitu asyik kemudian harus disudahi saat Pilot mengumumkan pesawat sudah sampai di TaoYuan, Taipei Airport. Saya dan tante Kim berpelukan, erat dan hangat, seperti seorang nenek kepada cucunya. Tante Kim pun memberikan kartu namanya dan berharap suatu saat saya bisa mengunjunginya di Amerika. -Yang mudah-mudahan akan terwujud-

Saat memasuki terminal kedatangan, saya langsung menyalakan telepon dan menelepon suami, sekedar mengucap kata rindu dan sayang, yang selama ini mungkin begitu jarang saya ucapkan.

Buat saya dan Miswa, menjaga kesetiaan bukan hal yang mudah. Maka, saya membeli dua pasang “kacamata kuda”, agar kita benar-benar punya komitmen akan pernikahan. Semoga saya dan Miswa bisa benar-benar menjaga kesetiaan dan hanya terpisahkan ketika maut memisahkan.

Terima kasih Tante Kim, pertemuan singkat ini begitu berarti banyak. Kesetiaan itu bukan hanya harus dijaga, tapi juga harus diusahakan.

  photo tantekim_zpsac2ef79d.jpg

 Tante Kim, saya dan Fauzi, teman saya.

Terima kasih Novel yang telah mengabadikan foto ini

Written by memez
Diary about my daily life, inspiring story, entrepreneur and the latest trend

    17 Comments

  1. arninta 09/12/2013 at 7:08 am

    :’) :’) aku terharu bacanya,,smg kita bisa ky gitu yaa mba..aamiin :))

    • memez 10/12/2013 at 10:09 am

      Aku pun masih suka terharu kalau inget Tante Kim…

  2. Ripiu 09/12/2013 at 11:06 am

    Terharu membaca ceritanya mba, seperti di novel saja tetapi ini kenyataan yah 🙁

    • memez 10/12/2013 at 10:09 am

      Iya ini kenyataan banget :)))

  3. De 09/12/2013 at 11:17 am

    Terharu banget sama love story nya tante Kim. Smoga kita semua bisa menjaga kesetiaan seperti mereka yah.

    • memez 10/12/2013 at 10:08 am

      Iya ya, sama-sama berdoa dan mendoakan ya Mba 🙂

  4. Maya 12/12/2013 at 10:51 am

    Pagi2 BW nemu cerita beginian jadi elap elap air mata deh :’)
    Jaman sekarang kesetiaan emang udah langka ya, mbak.
    Sebagai pasangan yang belum 3 tahun berumah tangga dan belum juga punya anak, jadi pelajaran banget nih cerita tante Kim. Ijin copas buat dikirim ke suami ya mbak 🙂

    • memez 13/12/2013 at 11:52 pm

      makasiiii udah mampir…. aku jadi terharu lagi nihhh

  5. Yeye 13/12/2013 at 3:28 pm

    Salut sm jalan ceritanya yg berani hijrah ke berbagai negara dan sangat terharu denger kisah hidupnya. Semoga bisa jadi teladan buat kita kisah cinta mereka yah hehe

    • memez 13/12/2013 at 11:52 pm

      amin amin, sama sama doain yaaa

  6. bebe' 14/12/2013 at 9:17 pm

    Aku ya brebes mili bacanya Mez… T__T

    • memez 16/12/2013 at 9:12 am

      Hiks hiks sama… masih inget terus…

  7. Yustine 20/12/2013 at 10:06 am

    Mbaaa, salam kenal ya 🙂
    Ini aku bacanya sedih banget, langsung berkaca pada diri sendiri. Semoga bisa begitu juga ya :’)

    • memez 23/12/2013 at 11:25 pm

      salam kenal juga, makasih sudah mampir 🙂

  8. santiariastuti 20/12/2013 at 4:25 pm

    blogwalking, dan sampe di sini 🙂
    mbrebes mili bacanya, mbak. manis bangeeet ya tante kim dan almarhum suaminya. semoga bisa seperti mereka ya 🙂

    • memez 23/12/2013 at 11:24 pm

      Haiii… makasih sudah mampir 🙂 salam kenal ya. Memang kisah Tante Kim ini bikin terharu…

  9. Ety Abdoel 22/10/2014 at 2:46 pm

    Nasehat berharga buat Saya Mba Memez..salam kenal