Rumah Memez

Cerita Memez / Langkah Kaki / Reportase

Satu Hari Di Kampung Budaya Sindang Barang Yang Bikin Terkenang

“Teh… Teteh-Teteh sama Aa, turun di sini dulu ya, mobilnya ngga kuat nanjak,” perintah Supir Angkot yang membawa saya dan teman-teman yang hendak menuju Kampung Budaya Sindang Barang. Terus terang, dalam hati saya sebel banget. Maklum, malam hari sebelumnya, saya kurang tidur karena Resky mendadak demam. Tapi, melihat teman-teman yang penuh semangat, saya buru-buru membuang rasa jengkel itu. Meski usai turun Angkot, saya harus menanjak di jalanan dengan kemiringan hampir sembilan puluh derajat.

Setelah melewati jalan menanjak dan berjalan sekitar 100 meter dari tempat turun Angkot tadi, akhirnya saya dan teman-teman yang mengikuti acara Telisik Kampung Budaya Sindang Barang ini, sampai di tempat tujuan. Alunan musik dari Angklung Gebrak yang dimainkan lima orang perempuan berusia senja, menyambut saya dan teman-teman. Saat melihat mereka, sungguh saya malu. Lima orang nenek tadi terlihat penuh semangat.  Sambil memainkan Angklung, mereka menyanyikan lagu berjudul Kampung Budaya, sebagai penyambutan dengan penuh ketulusan.

Buat saya, menjejakkan kaki di Kampung Budaya Sindang Barang, Bogor ini sesungguhnya menjadi sebuah pengalaman yang selalu terkenang. Walau penuh penyesalan saya rasakan…

Yup, baru di hari-hari terakhir saya mendaftarkan diri untuk mengikuti acara Telisik Kampung Budaya Sindang Barang yang digagas Komunitas IDCorners ini. Kalau bukan karena ajakan Mbak Vania dan Mbak Ningsih, mungkin saya urung mendaftar. Sampai Suami menyemangati saya, menyuruh saya untuk pergi, karena katanya saya sudah terlihat kurang semangat, terlalu terjebak pada rutinitas.

Sabtu, 24 Agustus 2019 silam jadi salah satu momen berharga dalam hidup saya. Saya yang terbiasa pergi sendiri, atau paling banter sama Suami dan Resky, akhirnya bisa jalan bareng bersama 25 orang travel enthusiast lainnya. Ya, di Kampung Sindang Barang, Bogor ini, yang letaknya tak sampai sepuluh kilometer dari Stasiun Bogor, saya akhirnya bisa menemukan sisi lain dalam diri saya, bahwa saya ternyata cukup tangguh untuk berjalan kaki dan bisa melebur dengan orang  yang baru saya kenal.

Setelah disambut pertunjukan singkat dari Angklung Gebrak, rombongan kami kemudian diarahkan ke Baleriungan, sebuah bangunan mirip gubukan berukuran besar. Sejujurnya, saya pingin ndlosor di lantai yang terbuat dari kayu. Adem dan nyaman hehehehee….. Tapi, workshop soal fotografi yang dibawakan oleh Raiyaini Muharram sepertinya sayang untuk dilewatkan. Untuk kali pertama, saya belajar soal teknik memotret. Maklum aja, saya kan selama ini memotret dengan teknik Auto hhahahahaa. Dari perempuan kurus yang biasa dipanggil Uni Rai ini, saya belajar soal teknik memotret low angle,eye level, sampai  high angle, yang ternyata bisa mengubah perspektif objek foto. Jadi pingin auto toyor diri saya sendiri, ke mana aja selama ini….

Oiya, di acara ini, saya akhirnya kembali memegang dan mencoba beberapa kamera Fuji Film Mirrorless yang warna-warnanya eye catching banget. Sebenarnya, saya sempat punya mirrorless Fuji Film ini, cuma karena jarang saya gunakan akhirnya saya sulap jadi…. duit! Alias dijual hehehehehe… Nah, di acara ini, salah satu  kamera  yang saya coba adalah kamera mirrorless Fuji Film X-T100, yang fiturnya saya rinci sebagai berikut ya…

  • Ringan banget, beratnya cuma 1,5 Kg aja.
  • 24.2MP APS-C CMOS Sensor
  • 2.36m-Dot 0.62x OLED EVF
  • LCDnya sudah touchscreen berukuran 3.0″ 1.04m-Dot Tilting Touchscreen LCD
  • Kalau untuk syuting video, kualitas gambarnya sudah UHD 4K/15p & Full HD 1080/60p Video
  • Sudah bisa terhubung dengan Bluetooth yang Low Energy dan juga Wi-Fi
  • Extended ISO 100-51200, 6 fps Shooting
  • Untuk kelengkapannya ditambah dengan Lensa XC 15-45mm f/3.5-5.6 OIS PZ

Sungguh naksir banget dengan si mirrorless Fuji ini, dan kemudian kalau diunggah ke Instagram pakai caption #Terfujilah 🙂 Sayang, saya lupa foto dengan properti ini. Dan kemudian teringat saya difoto Mba Ning dengan properti kamera Fuji. Keren yaaa…

Setelah selesai mendengarkan pemaparan Uni Rai, kami kemudian ditantang untuk mempraktekkan ilmu yang diberikan, sambil menyaksikan pagelaran seni yang ditunjukkan oleh sejumlah seniman dari Kampung Budaya Sindang Barang ini. Maka, beginilah aneka gaya yang dilakukan saya bersama teman-teman, demi memperoleh angle foto terbaik.

Berburu foto dengan angle terbaik. Credit Foto : @IDCorners 

Oiya, setiap tamu yang datang ke Kampung Budaya Sindang Barang ini, bisa saja menyaksikan pagelaran seni, tentu dengan biaya tambahan yang cukup terjangkau. Tiket masuknya kalau hari senin-jumat hanya 15 ribu, dan Sabtu-Minggu 25 Ribu Rupiah saja. Usai mendengarkan pemaparan Uni Rai, kami pun disuguhi aneka pertunjukan, seperti :

 

Angklung Gebrak

Kesenian khas Kampung Budaya Sindang Barang ini ditampilkan oleh lima orang perempuan berusia senja. Eits, tapi jangan salah mengira ya, mereka tetap penuh semangat dan ceria. bahkan, Nenek Masna yang sudah berusia 73 tahun, terlihat paling semangat menyambut tamu yang datang. Kelompok Angklung Gebrak ini sudah 13 tahun menjadi bagian dari Kampung Budaya Sindang Barang. Mereka pun kerap diundang ke berbagai acara, membawa nama Kampung Budaya Sindang Barang.

Angklung Gebrak sesungguhnya adalah filosofi dari ritual menanam padi yang harus dilakukan dengan penuh semangat, seperti menggebrak. Menurut Ibu Dedeh, salah satu pemain Angklung Gebrak, keikutsertaan mereka dalam kelompok ini bukan sekedar mencari uang, tapi juga menjadi sebuah semangat dari pelestarian budaya. “Kalau saja kami yang sudah tua masih semangat, yang muda jangan kalah dong sama kami,” jelas Ibu Dedeh yang juga berprofesi sebagai Guru Mengaji.

Kaulinan Barudak

Pertunjukan Kaulinan Barudak Yang Ditampilkan Seniman Muda Dari kampung Budaya Sindang Barang,

Credit Foto : @IDCorners 

Kaulinan Barudak dalam bahasa Sunda berarti permainan anak-anak. Maka, anak-anak yang tinggal di sekitar kampung Budaya Sindang Barang memperlihatkan kemampuan mereka menari, bermain seperti Ular Naga, hingga koreografi seperti kejar-kejaran. Sungguh lucu dan menggemaskan. Bahkan, saya jatuh hati pada polah centil Lala, salah satu anak itu. Kalau boleh, pingin saya bawa pulang saking gemesnya 🙂

Lala, Bocah Berbando Bunga Dengan Senyum Yang Menggemaskan. Credit Foto : @IDCorners

 

Tarian Jaipong

Tarian khas Jawa Barat ini ditampilkan gadis remaja dengan gemulai. Bahkan goyang, gitek dan geol yang menjadi ruh dalam tarian Jaipongan, ditampilkan mereka dengan luwes, jauh dari unsur seksualitas tentunya. Membuat penontonnya terhanyut dan ingin ikutan bergoyang….

Pertunjukan Tari Jaipong, Credit Foto : @IDCorners

 

Pencak Silat

Credit Foto : @IDCorners 

Ilmu Bela diri jadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Jawa Barat. Maka,  gerakan Pencak Silat ditampilkan dengan gagah dan penuh semangat oleh tiga pemuda di Kampung Budaya Sindang Barang. Oiya, bela diri yang ditampilkan ini tentu saja hasil dari latihan bertahun-tahun. Karena jika tidak mahir, kuda-kuda dan gerakan yang ditampilkan ini tidak akan terlihat bertenaga.

 

Rampak Kendang

Credit Foto : @RumahMemez

 

Siapa yang bisa memalingkan mata dan menahan diri untuk tidak ikut bergoyang saat melihat deretan gadis belia memperlihatkan kemampuan mereka menabuh gendang? Mungkin tidak ada yang bisa. Ya, deretan gadis belia yang sayangnya hanya satu yang mampu saya abadikan ini, memperlihatkan kemampuan mereka menabuh gendang dengan begitu energik dipadu dengan koreografi penuh semangat. Tak lupa, bibir mereka selalu menyunggingkan senyum, sebagai pertanda bahwa mereka menikmati pertunjukan ini, menampilkan semua kebolehan mereka dari dalam hati. Ah… saya sangat setuju, jika disebut kecintaan mereka terhadap budaya membuat mereka begitu totalitas saat menampilkannya.

 

Parebut Se’eng

Credit Foto : @IDCorners 

Terus terang, saya baru kali ini menyaksikan atraksi Parebut Se’eng. Dalam bahasa Sunda, Parebut Se’eng berarti berebut seeng, atau tungku nasi tradisional. Atraksi Parebut Se’eng adalah atraksi yang menggabungkan seni tari dan bela diri. Biasanya dipentaskan oleh laki-laki, baik dewasa maupun anak-anak yang mengenakan pakaian berawarna hitam khas Sunda yang biasanya disebut baju Kampret. Sebagai pelengkap, biasanya mereka mengenakan ikat kepala yang disebut totopong. Sayang, kali ini tak dikenakan dua remaja pria ini.

Aturan main dalam atraksi Parebut Se’eng sebenarnya sangat sederhana. Seorang peserta membawa Se’eng, sementara yang lain berusaha merebutnya. Jika Seeng berhasil disentuh peserta lain, maka akan berpindah tangan, dan jika perebut terjatuh, maka dinyatakan gagal.  Biasanya dimainkan oleh beberapa laki-laki, hingga disebut Rampak Parebut Se’eng. Pemenang dalam atraksi ini, bukan dinilai dari yang paling jago bertahan. Tapi, pemenang sesungguhnya adalah karena dia berhasil menang dan bisa menguasai nafsunya sendiri.

 

Tari Merak

Kostum warna warni yang dikenakan dua remaja ini membuat semua mata tertuju padanya. Ya, dua remaja energik ini menampilkan tarian Merak, salah satu tarian Khas Jawa Barat. Koreografinya sendiri bisa dibilang tidak sederhana. Sesekali mereka berputar 180 derajat, sambil mengibaskan kain selendang sepanjang tangan mereka. Tentu saja tak mudah, apalagi bagi saya yang hanya bisa menonton saja.

Teriknya sinar matahari, tak mengurangi semangat mereka untuk menampilkan kebolehan mereka menari Merak. Mirip burung Merak yang terkenal karena keindahan bulu dan saat memekarkan bulu ekornya yang cantik dan begitu semarak. Hiasan yang dikenakan di kepala, membuat penampilan dua penari Merak ini terlihat makin cantik dan semarak.

Aneka atraksi seni dan budaya yang ditampilkan para seniman di Kampung Budaya Sindang Barang itu sungguh membuat saya terhibur. Dengan kesungguhannya, mereka menampilkan kebolehannya, seakan menjadi sebuah pesan bahwa mereka menjaga dan melestarikan kesenian ini dengan penuh seluruh, tanpa keluh, walau bersimbah peluh. Sebagai penonton, sungguh saya hanya bisa memberikan rangkaian tepuk tangan dan rasa kagum tiada berujung.

Usai menyaksikan berbagai atraksi seni, saya dan teman-teman peserta Telisik Kampung Budaya Sindang Barang disuguhi makan siang berupa nasi dengan lauk yang bisa dibilang favorit saya, yaitu Nasi, Sayur Asem, Ikan Asin, Sambal, tempe tahu dan yang paling juara adalah…. ayam goreng serundeng, yang bikin saya pingin nambah, tapi saya cukup tahu diri hahahahaha…

Setelah menikmati makan siang yang begitu nikmat, acara dilanjutkan dengan pemaparan dari Donna Imelda, seorang travel writer yang juga salah satu pendiri dari @IDCorners. Meski merendah bahwa dirinya belum bisa disebut Influencer, perempuan bertubuh langsing yang berprofesi sebagai Dosen ini, sesungguhnya adalah salah satu idola saya. Jam terbangnya cukup tinggi dan orangnya juga sangat humble. Ibu dua anak yang biasa saya sapa Mbak Donna ini memberikan tips menulis cerita perjalanan yang kemudian membuat saya dan peserta lainnya ber ooooooo, alias tanda setuju… hahahahahaha

Salah satu tips yang diberikan Mba Donna adalah riset dahulu, sebelum menginjakkan kaki di sebuah tempat. Mungkin terdengar sepele, tapi riset membuat kita lebih siap dan tahu medan yang menjadi tujuan kita. Trus, jangan menghakimi atau memaksa pembaca setuju dengan pendapat kita sendiri. Sebenarnya masih banyak lagi, tapi sebaiknya langsung aja mendengarkan dari Mbak Donna langsung. Oiya, meski sibuk sebagai Dosen, beliau cukup sering memberikan workshop, pantengin aja Instagram Donna Imelda di @AyoPelesiran.

Dari Kampung Budaya Sindang Barang, perjalanan dilanjutkan ke Rumah Sutera yang akan saya ceritakan di postingan yang lain. Karena seru juga dan menarik banget….

Oiya, setelah seharian mengikuti acara ini, saya pun kembali ke rumah dengan penuh suka cita walau dihinggapi lelah. Penat akan rutinitas yang saya rasakan sebelum berangkat, sirna seketika. Pengalaman yang saya dapatkan, juga interaksi dengan teman-teman yang mungkin baru saya temui, membuat saya dihinggapi semangat untuk menjejakkan kaki di tempat lain. Terima kasih IDCorners sudah menggelar acara ini, juga Fuji Film yang membuat saya bertekad menabung untuk kembali memiliki salah satu kameranya.

Trus, kalau merasa senang begini, menyesalnya di mana?

Jujur saya menyesal…

Menyesal kenapa baru menyempatkan diri untuk ikut acara seperti ini

Menyesal kenapa baru kali ini datang ke Sindang Barang

Menyesal dan rasanya harus sering bertemu orang baru dan merawat pertemanan dengan teman-teman yang sudah cukup lama kenal

Dan menyesal lainnya adalah… harus sering belajar dari Uni Rai dan Mba Donna yang tentu saja pengalamannya lebih banyak.

Oiya, saat hendak memindahkan foto dari memory card ke komputer di rumah, memory card saya error dan fotonya 90% hilang.

Buat saya, ini sih jadi pertanda bahwa saya harus kembali ke Kampung Budaya Sindang Barang, mungkin bersama keluarga…

Kalau nanti ke sini lagi, saya mau mandi. Karena airnya dingin dan segar banget….

Satu hari di Kampung Budaya Sindang Barang yang bikin terkenang, sepertinya harus dibikin dua atau tiga hari biar kenangannya makin dalam dan membekas 🙂

Ada yang mau ikutan ke sini sama saya? Yuk ah barengan….

 

 

 

 

Kampung Budaya Sindang Barang

Telepon 0821-4787-6363
 kpbudaya@gmail.com
 http://www.kp-sindangbarang.com

 

2 Comments Satu Hari Di Kampung Budaya Sindang Barang Yang Bikin Terkenang

  1. Annie Nugraha

    Melihat, memotret, meliput, dan menuliskan sesuatu yg berkaitan dengan budaya, nyatanya semakin membuat kita mencintai kekayaan dan kearifan lokal ya Mbak. Betapa negri kita menyimpan banyak seni yg patut kita cintai dan banggakan.

    Semoga tetap lestari di tengah gempuran budaya dunia.

    Reply

Leave A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.