Indahnya silaturahmi saya peroleh dari perjalanan kali ini.

Perjalanan saya diawali pada 24 September pukul 3.45 pagi menuju bandara Soekarno Hatta, hanya butuh waktu satu jam kami sampai di bandara. Karena akhir pekan, bandara selalu penuh. Tepat pukul 6.20 WIB, pesawat Lion Air tujuan JKT-Denpasar-Bima akhirnya terbang juga, tidak delay sepetrti biasanya. Pukul 9 tepat kami sampai di Bandara Ngurah Rai untuk transit. Selama satu jam dua puluh menit transit (dari seharusnya hanyaΒ  50 menit) pesawat dengan jenis lebih kecil akhirnya membawa kami ke Bima. Pukul 11.25 kami mendarat di bandara Sultan Muhammad Salahudin yang begitu sederhana.

sampai di Bima, perut keroncongan (maklum Lion Air tidak menyediakan makanan apalagi minuman sama sekali) sarapan di bandara juga kurang enak. Akhirnya, makan siang dahulu di warung makan dekat bandara. Warung Ibu Rahmah spesial bandeng. Jadi disini bandeng dimasak dengan berbagai macam jenis, dibakar, dipresto, atau digoreng. Sambal khas Bima, Siadungga menemani santapan siang kami. Nikmat dan murah meriah. hanya 12 ribu saja.

Ke Bima, tanpa mencicipi jagung bakar dan rebusnya ibarat ke Paris tanpa berfoto ke menara Eiffel. Penjual jagung yang bertebaran di daerah Panda ini membakar pesanannya langsung, dan cara membakarnya juga masih sangat amat tradisional, dengan kayu bakar. harganya seribu rupiah saja. Rasa jagungnya berbeda, legit nian.

Mudik alias pulang kampung ini harus menyiapkan perut yang besar, maksudnya kapasitas perut yang besar. Karena selalu dapat undangan makan. Salah satunya adalah dari Tantenya suami yang masak spesial buat kedatangan kita. Tentu saja hidangannya adalah ikan laut. Di Bima mendapatkan Ikan Laut murah+mudah, jarang sekali di Bima mendapatkan ikan air tawar. Bahkan lele pun kabarnya baru-baru ini saja dipasarkan. Puas makan-makan, kita lanjut dengan menikmati Pantai. Bima ini dikelilingi Pantai yang bagus-bagus dan menarik. Sayangnya tidak semuanya sudah “sadar wisata” salah satu pantai yang lumayan adalah Pantai Kalaki. Terletak di pinggir jalan, trus disini disediakan semacam pondokan, dan gratisss pula. Sayang airnya sedang surut, jadi tidak bisa menceburkan diri ke pantai. Bersenda gurau dengan keluarga dan sanak saudara, menikmati sore hari di Bima, sesekali saya sempatkan dengan membaca buku Biografi Oprah yang saya bawa, rasanya kok nikmat banget ya. Tentram dan penuh dengan senam muka. Secara ketawa dan senyum-senyum terus karena cerita tentang masa lalu yang menggelikan. Inilah indahnya silaturahmi, kunci kekuatan silaturahmi. yang membuat siapapun rela menempuh jarak ribuan bahkan hingga jutaan kilometer. karena keluarga adalah tempat dimana kehangatan itu berasal.

Perjalanan ke Bima baru saja dimulai. Banyak cerita menarik, tentang prilaku kaum mudanya,Β  tentang bagaimana kotanya “tidur” mulai pukul 10 Malam, dan pusat keramaian hanya berada di tempat-tempat tertentu saja, juga tentang urban legend alias cerita di masyarakatnya.

Written by memez
Diary about my daily life, inspiring story, entrepreneur and the latest trend

    1 Comment