photo KASIHIBU6_zps41da8497.jpg
Pernah dengar ungkapan kasih Ibu sepanjang jalan, dan kasih anak sepanjang galah?

Pasti pernah !!!! *maksa.

Kalau ngga pernah coba cek sana  buku buku pelajaran bahasa Indonesianya. Perjalanan singkat saya ke Taiwan mengajarkan bahwa tak selamanya kasih anak sepanjang galah….

Sinar matahari yang tak terlampau terik seakan menjadi ucapan selamat datang, saat  saya  menginjakkan kaki di Chiang Kai-Shek memorial hall. Di monumen yang dibangun untuk mengenang jasa Chiang Kai-Shek, pemimpin Taiwan (Republik Of  Cina)  pertama ini, saya dan beberapa teman mengunjunginya untuk syuting sebuah film. Tapi, namanya syuting film lama banget ya, saya pun memilih untuk berjalan-jalan di taman sekitar Chiang Kai-Shek memorial hall ini.

Dari pintu gerbang utama yang tingginya 30 meter serta lebar 80 meter ini, hall utamanya berjarak 470 meter. Letak tamannya ada di sebelah kanan sebelum menuju hall utama. Tamannya sendiri cukup luas, nyaman, rimbun dan yang paling penting…. BERSIH!!!

Nah, di Taipei, Taman di Chiang Kai-Shek memorial hall ini dikenal sebagai salah satu taman tempat nongkrongnya TKW Indonesia. Eitss… tapi bukan sekedar nongkrong dan ngerumpi ya, mereka biasanya membawa nenek/kakek yang mereka asuh untuk bertemu dengan teman-temannya sesama nenek/kakek disini -yaiyalahmasatemennyaabgalaysih-

Saat nenek/kakek tersebut bercengkrama, sebuah pemandangan mengharukan saya saksikan. Yang membuat saya makin sedih karena belum bisa membahagiakan orangtua saya.

Barisan kursi roda yang dibuat mengelilingi taman itu, tersebutlah seorang pria yang mengaku usianya 60 tahunan -maafkansayalupanamanya- pria yang sudah beruban itu tubuhnya masih tegap dan terlihat masih sangat sehat. Rupanya, setiap hari Ia mengajak nenek dan kakek yang ada di taman itu untuk berolahraga walau berada di kursi roda.

 photo KASIHIBU2_zps805d287a.jpg

 photo KASIHIBU_zps117a0481.jpg

Gerakan-gerakan penuh semangat dicontohkannya. Kesabaran seakan tak pernah habis menyelimutinya. Keringat yang membasahi tubuhnya tak mengurangi semangatnya. Sebaliknya, Ia malah kian semangat membimbing nenek kakek tersebut satu persatu untuk menirukan gerakannya.

 photo KASIHIBU3_zps0f59965a.jpg

 photo KASIHIBU4_zps94de5593.jpg

Rupanya, pria itu adalah anak dari satu nenek yang usianya sudah 105 tahun. Sudah sejak 4-5 tahun belakangan Ia mendedikasikan dirinya untuk menjadi sukarelawan melatih para orangtua tersebut. “Saya ingin punya lebih banyak waktu untuk Ibu saya. tadinya sih hanya mengajak olahraga Ibu saya saja, tapi kemudian teman-temannya dan pengunjung taman ini ikut latihan bersama kami,” jelasnya.

 photo KASIHIBU5_zpsc1e67250.jpg

Ia bilang, Ibunya sangat bersemangat kalau difoto. Lihat gayanya saat berfoto bersama saya

Keikhlasan hatinya membuat saya malu.Malu karena saya masih seringkali abai dengan Mamah yang tengah berjuang melawan kanker serviks, atau bahkan abai dengan Papah yang walaupun menderita sakit jantung-dan bergantung dengan obat- masih bisa menyetir sendiri.

Di Taiwan, ketika orangtua sudah jompo dan renta, anaknya tidak bisa lepas dari tanggung jawab, atau langsung memasukkanya ke panti jompo. Ketika tak bisa menjaganya, minimal bisa membiayai untuk menggaji Asisten Rumah Tangga. Maklum saja, untuk mempekerjakan seorang Asisten Rumah Tangga untuk menjaga orang tua tidaklah mudah. Selain harus direkomendasikan dua dokter bahwa nenek/kakek tersebut memang butuh orang lain untuk menjaganya. Gajinya pun cukup mahal, sekitar NT 15.840 atau US$ 531. Mahal kan????

Menurut budaya di sana, biasanya kalau nenek tinggal sama anak laki-laki, dan kakek tinggal sama anak perempuannya. Tapi, kalau anaknya cuma perempuan atau laki-laki aja ya fleksibel saja.

Kunjungan singkat saya ke Chiang Kai-Shek memorial hall ini mengajarkan bahwa sesungguhnya sepanjang apa kasih anak, tergantung anaknya itu sendiri. Mau sepanjang galah, sepanjang kemacetan jakarta, atau sepanjang apapun itu, tergantung anaknya sendiri. Walau kasih sayang orangtua tak akan bisa dibalas, setidaknya anaknya juga harus  ada usaha untuk menyenangkan hati orangtua.   *ngaca sama diri sendiri yang masih doing nothing buat orangtua*

Selesai mengharu biru dengan pengalaman akan keikhlasan seorang anak menjaga orangtuanya, yang membuat batin saya tersentak. Saya kemudian menjadi begitu kagum sekaligus heran melihat sejumlah TKW yang bekerja di Taiwan ini. Gaya dandanan mereka begitu modis. Dandanan ala girl band terkini mereka perlihatkan. Tak hanya itu, mereka bahkan begitu sadar teknologi. Ponselnya keluaran terbaru, bahkan banyak dari mereka yang menggunakan tablet untuk berfoto-foto. Tabletnya bukan yang murahan ya, karena minimal samsung tab ya…

Ketika saya berada di sana, saya langsung dikenali bukan bagian dari mereka. -mungkin karena gaya berpakaian saya terlalu biasa- Dan, ketika melihat saya mereka langsung meminta berfoto. Mungkin mereka akan jadi fashion police buat saya, entahlah. Yang jelas saya acungi jempol buat keberanian mereka menunjukkan fashion statementnya.

 photo KASIHIBU7_zps019dd557.jpg

 

 

 

 

 

Written by memez
Diary about my daily life, inspiring story, entrepreneur and the latest trend

    4 Comments

  1. Indah Kurniawaty 05/12/2013 at 7:43 am

    TFS, Mbak Memez. Note buat aku juga untuk meluangkan lebih banyak waktu ke nyokap.

    Mbak Memez disangka arteis Indo yang lagi suting kali. Makanya diajak foto rame-rame. Hihihi…
    Pada minta tanda tangan dan cap bibir gak ?

    • memez 07/12/2013 at 1:36 pm

      huaaahhh bisa aja arteis Indo…. :)))

  2. santiariastuti 24/12/2013 at 11:30 am

    keren amat ya mbak mereka dandannya, kalah set akik! *memandang flat shoes lusuh 😀

    • memez 01/01/2014 at 10:04 am

      Hoohhh… akupun kalah gaya :)))