Rumah Memez

Cerita Memez

Curhat (Calon) Ibu

“Belajar yang bener ngga, gue gantung loh…..” ancam Ibu X pada anak laki-lakinya yang masih berusia sepuluh tahun.

“Bego banget sih… dasar anak setan,” cetus Ibu X pada anaknya lain waktu. -Dia bilang anaknya anak setan, berarti yang setan dia bukan sih? –

Beberapa kali saya mendengar Ibu X ini bicara kasar, mengancam, bahkan cenderung intimidatif pada anak-anaknya. Jujur, saya cemen banget. Ngga berani bereaksi apapun, karena saya tahu Ibu X ini akan marah, dan bahkan diam-diam mengata-ngatai saya di belakang saya. Karena saya pernah menegurnya saat memarahi anaknya, dan masalahnya jadi panjang.

Kalimat pamungkas yang sering dikatakan Ibu X di belakang saya  adalah….

“Halaahhhh dia kan belum punya anak, jadi ngga tahu cara membesarkan anak…”

Makjleb yaa. Kalimat singkat ini yang mungkin dahulu akan membuat saya sedih berhari-hari. Alhamdulillah sekarang sudah kebal.

Tapi… apakah harus menjadi seorang Ibu, untuk tahu bagaimana caranya membesarkan anak dengan penuh kasih sayang, tanpa ancaman, tanpa kata-kata kasar?

Tanggal 22 Desember, seluruh masyarakat Indonesia merayakan hari Ibu. Sebenarnya, pemilihan tanggal 22 Desember sebagai hari Ibu, karena pada 22 – 25 Desember 1928 digelar Kongres Perempuan Indonesia yang pertama, di Yogyakarta.  Kemudian, oleh Presiden Soekarno yang secara resmi mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 316 Tahun 1959, tanggal 22 Desember dicanangkan sebagai Hari Ibu,  untuk merayakan semangat perempuan Indonesia dalam berbangsa dan bernegara (sumber : wikipedia)

Jujur saja, peringatan hari Ibu beberapa tahun lalu (sesudah menikah dan juga belum punya anak) membuat saya sedih. Saya menanti sapaan Ibu, dipanggil Ibu oleh anak, buah hati saya -yang saya percaya masih dalam proses pengiriman dari Allah- Namun, dengan berbagai usaha yang pernah dan tengah saya jalani, saya percaya sapaan Ibu, sebuah kata yang begitu indah dan begitu agung ini akan saya dengar juga.

Oke, balik lagi ke pembahasan awal. Apakah harus menjadi Ibu dahulu untuk tahu bagaimana sulitnya membesarkan anak, merawatnya dengan penuh cinta, tanpa amarah dan kata-kata kasar? Saya yakin tidak. Dahulu, saya menyimpan perasaan demikian kesal pada Ibu X ini. Dalam setiap doa, saya bertanya pada sang maha pencipta.

“Mengapa dia yang kasar, cenderung abai dan tak peduli pada anak-anaknya, justru oleh Allah diberikan keturunan yang cantik, ganteng, lucu dan menyenangkan?”

Perjalanan waktu kemudian membuat saya sadar, bahwa mungkin karena Allah sangat sayang pada Ibu X. Maka, dia lagi dan lagi dikarunia anak-anak yang menyenangkan itu. Agar suatu saat dia merasa sadar, bahwa betapa beruntungnya dia karena memiliki anak-anak yang walaupun kerap dihujani kata-kata kasar tetap sayang dan selalu merindukannya.

Bohong kalau saya tak pernah menghakimi Ibu X ini. Dan menilainya sebagai Ibu yang jahat. Tapi, kemudian saya sadar mungkin Ibu X ini terlalu berat beban hidupnya. Harus bekerja -pergi subuh, pulang lewat jam sembilan malam- membagi penghasilannya untuk menghidupi anak-anaknya (karena mantan suaminya tak bertanggung jawab, dan suaminya saat ini cenderung cuek pada anak-anak dari suaminya terdahulu) Meski dengan alasan apapun, berkata kasar dan mengancam anak adalah hal yang tidak patut dilakukan. Mungkin memang ini cara dia membesarkan anak-anaknya…. Bukankah setiap Ibu punya cara sendiri membesarkan anak-anaknya, dimana antara Ibu satu dengan yang lainnya belum tentu sama? Akhirnya, daripada kesel sendiri, saya membebaskan diri saya dari perasaan Baper, kesel, dan marah saat melihat anaknya diperlakukan (menurut saya) tidak baik oleh Ibunya. Saya kemudian menarik garis batas, dimana saya boleh berkomentar atau tidak. Dan satu hal yang selalu saya percaya….

“Tidak akan ada Ibu yang akan menyakiti anaknya sendiri”

Di sekitar lingkungan pertemanan, keluarga bahkan pekerjaan, saya mengenal banyak perempuan berstatus Ibu yang begitu hebat membagi waktu, tenaga dan materi.

Kisah dari perjuangan seorang Ibu yang membuat saya kerap terharu adalah perjuangan seorang teman sekolah yang menjadi Ibu tunggal dengan empat anak-anaknya yang masih kecil. Yup, mantan suaminya meninggalkannya karena perempuan lain. Demi menghidupi anak-anaknya, teman saya ini bahkan bekerja di dua tempat. Ibaratnya, kaki jadi kepala dan kepala jadi kaki. Demi apa? Demi anak-anaknya bisa sekolah . Tapi, saya tak pernah sekalipun mendengarnya mengeluh atau menjelek-jelekan mantan suaminya. Bahkan, ketika ada anaknya yang mengeluhkan betapa sang Ayah tidak bertanggung jawab, teman saya bahkan mengingatkan anak-anaknya dengan kebaikan mantan suaminya. Duh… kalau saya mungkin ngga sesabar itu yaa…

Beruntung saya, banyak teman-teman saya yang sudah menjadi Ibu dan menjadi contoh yang baik bagi saya. Bahkan, banyak yang rela meninggalkan kariernya yang sudah sangat mapan demi mengurus anaknya, alasannya? “Ngga ada yang lebih membahagiakan ketika menyiapkan anak sekolah, menemaninya bermain, bahkan melihatnya tidur nyenyak di pelukan saya, ” #Salute

Namun, contoh paling nyata dari sosok perempuan sekaligus Ibu yang hebat tentu Almarhum Ibu saya dan Ibu mertua saya. Almarhum Ibu saya misalnya. Dahulu, beliau ngga bisa masak sama sekali. Dengan inisiatifnya, dia belajar memasak lewat resep-resep yang ada di majalah Femina dan Tabloid NOVA (Maklum dulu ngga ada Google) dari ngga bisa masak, bahkan di akhir usianya, Almarhum Ibu saya memiliki usaha catering yang bisa menyokong kehidupan kami. Alfatihah untuk Mama….

Dari Ibu mertua, saya belajar bahwa perempuan itu harus bisa menyisihkan uang untuk ditabung dan membantu suami dalam mencari uang. Setiap berbicara tentang Ibunya, nada kekaguman selalu terdengar dari mulut suami saya. Betapa Ibunya giat membantu perekonomian keluarga, dari membantu menjual kayu Gaharu, berjualan kue sampai es. Namun, yang sangat amat patut ditiru adalah kehebatannya menyisihkan duit hingga kelima anaknya sekolah sampai Sarjana, membangun dua rumah dengan sangat amat layak, bahkan berangkat menunaikan ibadah haji dari beberapa puluh ribu uang belanja yang disisihkannya setiap hari.

Dari perjalanan delapan tahun lebih menikah dan masih menantikan kehadiran buah hati, saya kemudian merasa mungkin Allah tengah memberi waktu agar saya belajar banyak dari para Ibu dengan berbagai bentuk perjuangannya. Maklum aja ya, saya tuh cenderung cengeng, bosen dan boros. Ketika penat dengan pekerjaan, saya bisa menghabiskan uang untuk membeli barang cenderung ngga perlu yang sesungguhnya sudah beberapa saya miliki, mulai dari lipstick sampai kerudung. Bahkan, saya sering menghabiskan beberapa ratus ribu rupiah hanya demi pijat di salon langganan. Semua demi alasan menghibur diri #Pengakuan

Peringatan hari Ibu mengajarkan saya, bahwa menjadi seorang Ibu adalah komitmen luar biasa, karena perjanjiannya sama sang pencipta. Setiap Ibu adalah sosok hebat, dengan berbagai bentuk perjuangannya. Ya iyalah, ketika melahirkan saja bertaruh nyawa, apalagi ketika membesarkannya. Maka, izinkanlah saya, sebagai calon Ibu (yang tengah menantikan kehadiran anak, kapanpun itu waktunya), menghaturkan salam penuh takzim kepada anda semua yang berstatus sebagai Ibu. Selamat Hari Ibu, kalian adalah manusia pilihan yang beruntung, karena seorang Ibu adalah

“Malaikat yang dipilih sang Maha Pencipta untuk melahirkan dan merawat anak, hingga surga akan menjadi balasannya kelak…. “

Cerita dong, apa sih yang biasanya kalian lakukan saat peringatan hari Ibu?

 

9 Comments Curhat (Calon) Ibu

  1. Ayu Nita Dwi Karina

    MasyaAlloh mbak.. Ulasan mbak menjadikan saya tertampar.. Betapa saya kudu lebih bersyukur 🙁

    Keep inspiring mbak.. 😉

    Buat almh. Ibunda Allohumma firlaha warhamha wa’afihi wa’fu’anha.. Semoga dipertemukan kembali di jannahNya bersama kelak.

    Reply
  2. Rach Alida Bahaweres

    Halo mba Memez, aku juga suka sedih banget kalau dengar kalimat ucapan yang entah sengaja atau tidak teryata melukai anaknya. Padahal ucapan orangtua adalah doa. Alhamdulillah aku dan suamiku menjaga lidah bahkan untuk kata ‘bodoh’ kepada anak.

    Ikut mendoakan mba Memez 🙂

    Reply
  3. Yeye

    Eike ga ada peringatan apa2 BuMez, hihii

    Btw yaaaa, kdg suka esmoni emang ngadepin anak2, tp semoga gue ga sampe kaya si ibu X yah, ngeri bener. Ya lu tau dah klo gue lg marah sama Millie gimana hahahahahha

    Reply

Leave A Comment