[nggallery id=2]

Kebiasaan saya ketika berada di tempat yang asing adalah bangun lebih pagi ketimbang biasanya. tak terkecuali saat di Australia. Jam delapan pagi, usai sarapan, saya pun bergegas untuk melanjutkan petualangan di Sydney Australia. saya benar-benar iri dengan tata kota Sydney. Rapih, bersih, tenang, nyaman. Pemberhentian pertama saya adalah Katedral St Mary. Melihat Katedral St Mary di malam hari dengan di siang hari tentu berbeda. Tapi, saya merindukan suami saya yang bisa mengabadikan foto dengan sudut terbaik. Setelah dari St mary saya berhenti di Hyde Park yang terletak di seberangnya. taman ini asri banget. Banyak keluarga yang menghabiskan waktu di Hyde Park ini. Tak terkecuali seorang gelandangan yang mabuk berat. Di Hyde Park ini juga ada pengamen yang biasa mangkal untuk menangguk rezeki. Orangnya ganteng, suaranya bagus dan alat0alat musiknya juga oke punya. Jangan dibandingkan dengan pengamen di bus kota Jakarta, jomplang pastinya.

dari Hyde Park yang sangat luas, saya sampai di bagian luar Hyde Park yaitu di Elizabeth street. Sempat beli air mineral di sebouah Convenient Store (harga satu botolnya 3 AUD alias 27 ribu rupiah, makanya kebanyakan orang bawa botol minum sendiri dan isi di kran) perjalanan saya dilanjutkan ke Bathurst Street. Disini ada katedral St Andrews yang juga terkenal. karena menjelang Natal, ada kontes menghias bus. Pesertanya ada tiga bus, hadiahnya 500 AUD. Seorang pengemudi wanita memenangkan kontes ini.

Saat sedang mengabadikan sudut menarik katedral St Andrews, muka saya yang Indonesia banget membuat saya disapa oleh seorang pemuda. Yang belakangan mengenalkan diri sebagai Tohir. Aneh banget Tohir ini, lahir sampai umur 18 tahun tinggal di Jeddah Arab saudi, kemudian kuliah di Sydney. otomatis tak pernah tinggal lama di Indonesia -pengakuannya hanya liburan selama tiga bulan- tapi, bahasa Indonesianya medok banget, khas Surabaya. Beruntunglah saya bertemu Tohir, pemuda yang kuliah di King Abdul Aziz University ini menjadi pemandu saya selama di Sydney.

Oleh Tohir, saya diantarkan ke tempat belanja oleh-oleh di Sydney. Melewati Darling Harbour yang didalamnya terdapat taman, kami sampai di Paddy’s Market. saat di darling Harbour, oleh Tohir saya ditraktir Mc Donalds. Oh tidak, dua hari berturut-turut makan di Mc Donalds. Tohir menyarankan sebaiknya makan burger ikan saja, karena cenderung lebih halal, ketimbang daging atau ayam yang kita tidak tahu proses penyembelihannya.

Di Paddy’s market penyakit saya kambuh. Iya, penyakit gila belanja 🙁 apalagi barang-barangnya lucu. Beli kaos untuk keluarga dan teman. Kaos dewasa harganya 20 AUD untuk 3 kaos, kalau satuan 8 AUD. kaos anak-anak 20 AUD untuk 4 kaos. magnet kulkas 5 AUD/3. Dan lagi-lagi di Paddy’s Market saya mengetahui kalau banyak sekali orang Indonesia sering sekali belanja -dan banyak belanjanya- tak heran kalau terlihat belanja banyak, penjualnya langsung bertanya “Are you Indonesian?” entah harus bangga atau malu. Di Paddy’s Market sempat lihat perempuan yang mirip Paris Hilton dengan membawa anjingnya dan pengawal yang badannya sebesar kulkas empat pintu alias besar-besar. tapi kalau paris Hilton untuk apa ya ke Paddy’s market?

Selesai terapi penyakit gila belanja, saya kembali ke hotel untuk menyimpan hasil buruan di Paddy’s market. Tohir mengajak untuk berjalan-jala ke Bondi Beach yang terkenal itu. dari hotel Formule 1 tempat saya menginap, saya harus berjalan kaki ke stasiun kereta. Di King Cross Stasiun saya harus melewati dua stasiun untuk sampai ke Bondi Station. Setelah sampai di Bondi Station harus naik bus di A33. Setelah naik bus selama 15 menit -lama bukan karena macet, tapi kebanyakan berhenti- akhirnya saya dan Tohir sampai di Bondi beach.

Bondi Beach sesungguhnya tidak terlalu istimewa dibanding pantai Kuta di Bali. Garis pantainya pendek, airnya dingin banget. Ombaknya tidak terlalu besar meski banyak orang yang berselancar. kelebihan Bondi Beach adalah bersih dan tidak banyak pedagang yang bertebaran -yang sesungguhnya mengganggu kenyamanan-

Di Bondi beach banyak pengunjung yang berjemur -meski sesungguhnya tidak terlalu panas- langit yang biru dan burung yang beterbangan membuat pemandangan di Bondi Beach makin indah. Saya dan Tohir menutup petualangan di Bondi Beach dengan menikmati segelas besar teh panas di Mc Donalds.

Written by memez
Diary about my daily life, inspiring story, entrepreneur and the latest trend

Comments are closed.