Feb
20

Salam Terakhir – Five Minutes

By

Salah satu quality time gue sama Suami adalah saat berada di mobil. Perjalanan ke suatu tempat, seringkali benar-benar dipergunakan untuk ngobrol dan bercerita…. termasuk tentang hal norak sekalipun.

Jadi, tetiba kemarin sebuah radio memutar lagu Salam terakhir -  Five Minutes. Eh Suami bertanya, “waktu lagu ini kamu kelas berapa ?” Langsung deh mendadak galau. Gue pun cerita tentang kenangan dibalik lagu ini. Thank GOD. Suami gue itu tipe orang yang lurus, lempenang, ekspresi wajahnya. Ngga pernah tuh merasa cemburu. Tapi, ekspresinya dia setelah gue cerita tentang kenangan di lagu ini benar-benar bikin gue mau menangis.

Lagu ini populer pas  gue kelas 3 SMP, gue inget banget pernah “jadian” dengan seorang cowok di Bandung. Kenapa jadiannya pakai tanda kutip? aduh, umur segitu, waktu dibilang dia suka gue aja sudah deg-degan banget. Pokoknya, gue tahu lo suka gue dan lo tahu gue suka lo juga. Menjijikan memang hahahahaha… Trus, setahun kemudian, gue ke Bandung dan  janjian sama dia di KFC Dago. Dan sampai tiga jam menunggu, Dia ngga datang. PEDIH? banget.  Saat itu, lagi mellow banget, dan gue menetapkan lagu Salam Terakhir Five Minutes sebagai soundtrack hati gue, Lebay memang ya :)

Sekarang, kalau mengingat kejadian ini, gue selalu ketawa aja. Apalagi kalau ke Bandung, dan lewat KFC Dago. Gue menertawakan kebodohan gue “Betapa Mudahnya Gue Percaya Dengan Janji Cowok” dan gue menganggap itu sebagai pelajaran berharga dalam diri gue.

Etapi… waktu gue cerita ini sih Suami lempeng-lempeng aja sambil ikut menertawakan gue, at the end, dia malah bikin gue pingin nangis.

“Kalau waktu itu kamu ketemu sama cowok itu, bisa-bisa kita ngga ketemu dan ngga menikah seperti sekarang. Pernah terbayang ngga kalau kita ngga menikah,”

######JLEB#####

I Don’t How I’m Without Him

Bukannya gue lemah, bukannya gue bergantung sama Suami.

Tapi,kita saling melengkapi.

Bagai botol ketemu tutupnya

Sepertinya  dia memang pemilik dari tulang rusuk yang ada di tubuh gw.

Dan, gue ngga pernah terpikir, bagaimana kalau dia ngga ada dalam kehidupan gue?

Siapa yang akan menjadi teman diskusi gue dalam segala hal?

Siapa yang bersedia mendengar gue mendengkur saat  tidur?

Siapa yang rela mengarungi perjalanan 80 Km pergi pulang setiap dini hari?

Akhirnya gue menyadari, kadang TUHAN memang membelokkan kita pada jalan yang PAHIT, namun untuk akhir yang MANIS.

 

Categories : Blog

Leave a Reply