Ketika Si Neng Pulang
BySaat asisten pulang, saat betapa berharganya tenaga seorang manusia.
Asisten gue di rumah, namanya Neng. Umurnya masih 15 tahun, dia adalah contoh bahwa anak perempuan tertua harus bertanggung jawab sama kelangsungan perekonomian keluarganya. Sedih sih kalau dia cerita bahwa betapa sulit kehidupan keuarganya, yang lebih sering makan nasi pakai garam ketimbang pakai telur sekalipun.
Gue menganggap Neng adalah asisten dan orang terdekat gue di rumah. Kalau masak dia yang siapin dan gue yang masak, kecuali untuk urusan pakaian dia bertanggng jawab penuh. Gue perlakukan dia seperti teman aja. Kadang kalau gue libur dan mau nonton, ya dia gue ajak nonton. Makan sama dengan apa yang gue makan. Gue paling ngga suka ya kalau ada keluarga yang memperlakukan pekerja di rumahnya dengan berbeda, ada nih ya orang yang gwue kenal sampai melarang ekerja di rumahnya makan jagung dari sayur asem yang dimasaknya. Ya ampun berapa sih harga jagung sampai segitu pelitnya.
Kadang Neng suka menolak untuk jajan, katanya dia inget keluarganya. Mereka tadi cuma makan pakai garam, nyesss banget kan. Makanya gue suka kasih dia uang jajan, diluar uang gajinya dia tentunya.
Mnjelang kepulangannya, gue bawain rendang, ayam presto dan jajanan lainnya, biar adik-adiknya merasakan makanan enak. Selain beliin sendal dan baju, juga beliin buat keluarganya, diluar THR satu bukan gaji dan tambahan ongkos tentunya. Tapi herannya, ada yang marahin gue karena gue berlaku
begitu sama Neng, terlalu banyak dan terlau berlebihan. Rasanya pingin gue peniti mulutnya orang itu, kenapa sih perhitungan banget, toh bukan duit dia yang bayar si Neng kan?
Perhatian gue sama Neng karena gue menyadari betapa berharganya tenaganya dia, waktunya dia dan dedikasinya dia sama gue dan suami. Walau gue cuma berdua sama suami, dan dia mengurus kebutuhan gue sama suami, so far gue cukup uas sama kerjanya. Walau ada yang nyinyir kalau kerjaannya Neng cuma tidur melulu, gue sih mengelus dada aja deh. S far rumah gue bersih dan kinclong. Bakan peralatan makan yang disimpan lama di lemari ngga berdebu, ngga kayak yang nyinyir itu.
Salah satu kekurangan Neng adalah ngga bisa naik motor, jadi seringkalai kalau kemana-mana mesti gue dampingi. Tapi, ya dimaklumi saja bahwa setiap manusia ada kekurangan dan kelebihan. Gue mengiming-imingi dia untuk bisa naik motor kalau mau naik gaji, ya mudah-mudahan pulang mudik bisa terealisasi.
Oiya, neng itu gue kasih jatah libur sekali seminggu yang seringnya ngga dia ambil, paling dia sukaizin kaau mau jalan-jalan ke rumah bibinya yang ngga jauh dari komplek rumah gue.
Melihat Neng yang begitu cekatan menjaga kebersihan rumah gue, gue jadi inget saat mau syuting built ini di rumah seorang artis. Pembantunya lima orang, tapi tempat cucipakaiannya jorokkkkk banget, sampai ada kecoa banyak banget hiiii geli kalau inget itu. Syuting akhirnya dipindahkan ke kamar mandinya.
Yang suka komplain sama pekerja di rumahnya, coba deh rasakan kalau pas pekerjanya mudik. Pasti repot kan? Nh sebelum neng mudik, gue stok makanan di kulkas, karena kalau ngga ada Neng agak ribet juga kalau masak.
Wkatu gue tanya berapa lama mau mudik, dia bilang 10 hari, ya udah gue sih senyum-senyum aja. Ngga marah apalagi melarang. Hitung-hitung dia cuti dan ambil liburnya rapel. Yng pentng dia balik lagi aja.
Selamat mudik ya Neng…
si mbak dirumah saya juga Pulang,
sayang kabar terbaru, si mbak nggak balik lagi, mau dinikahin sepertinya.
semua mbak, atau bibi, kami anggap keluarga sendiri. Cuma tidak terpikirkan ada waktu libur
btw, gimana si Neng? sudah balik lagi?
Salam kenal