Aug
09

Madre – Ketika Dewi Lestari Makin “Berbahaya”

By

Dewi Lestari memang penulis yang “berbahaya”. Setiap karyanya selalu menimbulkan kecanduan. Madre yang hanya setebal 176  Halaman, tak cukup dibaca sekali. Semakin mengulang membacanya, semakin jatuh cinta pada ceritanya.

Di buku Madre ini, Dewi Lestari yang dikenal dengan nama pena Dee, atau di twitter @deelestari menyajikan tigabelas kisah yang terbagi dalam cerita pendek dan Prosa pendek. Meski  cerita pendeknya hanya Madre, Mercusuar, Guruji dan Menunggu Layang-layang.  Tapi kisahnya menggemaskan, sampai saya tak rela saat halamannya habis.

Madre bercerita tentang Tansek, seorang pemuda berdarah India yang baru mengetahui kalau dirinya juga berdarah Cina dari kakeknya. Saat kakeknya meninggal, Tansek yang datang jauh-jauh dari Bali diwariskan Madre-yang dalam bahasa Spanyol berarti Ibu- Madre walau bukan makhluk hidup, tapi dianggap bernyawa. Ya inilah, roh yang telah menghidupkan dan menjadi penghidupan dari banyak pegawai yang bekerja di Tan De Bakker.
Tentu saja cerita tidak berhenti sampai sini, dengan gemulai dan lincah, Dee mengajak pembacanya berimajinasi tentang pentingnya sebuah biang roti dalam usaha toko roti. Era sosial media diterjemahkan Dee lewat Tansek yang berkenalan dengan Mei, gadis Cina yang berniat membeli Madre senilai 100juta rupiah.

Alih-alih ingin membeli Madre, Mei malah menjadi partner bisnis Tansek. Kejayaan Tan De Bakker kemudian terulang berkat duet Tansek-Mei.

Mercusuar bercerita tentang Howard, Darma, Cahaya yang sempat ragu akan mengunjungi sebuah mercusuar di daerah Old Coast Australia. Saat membaca cerita ini, saya kok jadi teringat saat mengunjungi bondi beach Australia, yang pantainya biru, bersih dan teduh. Membaca Mercusuar, membuat saya teringat, seringkali kita merasa De Javu dengan sebuah kejadian.

Menunggu hingga waktu yang tepat untuk mengetahui sebuah isyarat, bikin gemes memang. Paling suka pas quote ” Hidup telah menunjukkan cahayanya sendiri bahwa aku senantiasa dipandu. Tak perlu tahu kemana semua ini akan berakhir. ”

Guruji menceritakan kisah persahabatan atau mungkin lebih tepatnya TTMan dua manusia bernama Ari, tentu saja yang satu laki-laki yang satu perempuan. Sayang, saat Ari yang laki-laki  berubah menjadi seorang Guruji, Ari perempuan merasakan kehilangan belaha jiwa yang amat sangat. Membaca bagian Guruji ini kok jadi membayangkan betapa dami , lempeng dan bercahaya mukanya Guruji ini?

Menunggu Layang-layang

Nah ini ceritanya paling juara, selain Madre tentunya. Tarik ulur kisah Starla dan Christian atau yang disapa dengan Che. Starla selalu berkeluh kesah kepada Che apapun ceritanya. Starla, seorang perempuan dengan perpaduan pas : cantik-gaul-mapan-pintar- selalu bercerita tentang apapun pada Che, hingga suatu saat mereka menyadari bahwa mereka adalah dua orang yang ditakdirkan bersama, apapun kondisinya. Namun, pengingkaran dalam hati seringkali muncul. Ya sesungguhnya inilah yang seringkali dirasakan kebanyakan orang, jauh-jauh mencari pasangan tapi sesungguhnya pasangannya ada di tempat yang seringkali tidak kita sadari.

Membaca kumpulan cerita “Madre” membuat saya ingin “menodong” Dewi Lestari, untuk terus menulis dan menulis. Sekali lagi, setelah  Trilogi Supernova, Filosofi Kopi, Rectoverso dan perahu Kertas, Dewi Lestari membuktikannya sebagai penulis yang “berbahaya” karena menimbulkan kecanduan terhadap pembacanya. Semoga Dewi Lestari sehat terus biar bisa menulis terus karena rentang waktu antara Perahu Kertas dan Madre ini cukup lama.

 

 

 

Categories : Blog, Resensi Buku

Comments

  1. wah karya Dee aku cuman baca yang supernova, waktu kuliah, waktu masih suka baca dan punya waktu untuk baca buku, sekarang sok sibuk saja, work and foto foto…. :)

    • memez says:

      Wah yang Madre ini harus disempatkan membacanya… bagus banget dan ringan kok. Kalau saya harus baca dulu sebelum tidur.

      Thanks sudah mampir

  2. Lingga Palupi says:

    Kabarnya buku terbaru Dee “Partikel” akan hadir di bulan April.. Can’t wait to read it! ^.^

  3. Titi says:

    Saya jadi penasaran ingin baca Madre. Kalau Supernova saya baca tiga-tiganya, juga Filosofi Kopi. Memang luar biasa Dee ini, ceritanya menyentuh dan filosofis. Salam

Leave a Reply