Jul
20

Nasional.Is.Me

By

Photobucket


Membaca buku ini seperti mendengarkan Bung Karno berpidato. Semangat kebangsaan akan  bergelora  dan makin mencintai negeri ini.

Adalah Indonesia. Negara yang konon katanya tengah kusut masai lantaran begitu banayak persoalan yang tak kunjung terselesaikan. Mulai dari masalah korupsi yang begitu menggurita hingga masalah kerukunan umat beragama yang sepertinya hanya tinggal retorika semata. Ngga heran kalau belakangan banyak orang yang pesimis dengan Indonesia. Apalagi generasi muda.

Pandji Pragiwaksono, seorang yang multitalenta,   kemudian punya kesimpulan  kenapa banyak orang yang kian pesimis sama negeri ini. Mereka yang pesimis sama negeri ini karena hanya tahu negeri yang dijuluki gemah ripah loh jinawi ini dari sisi negatifnya saja, dari sekedar pemberitaan di media massa (inget berita negatif lebih banyak loh ketimbang berita positif) . Padahal banyak banget hal  yang bikin cinta sama negeri ini.

Pandji memaparkan beberapa daerah yang masih sulit mendapatkan fasilitas kesehatan -makanya bersyukur yang bisa dapat fasilitas kesehatan dengan mudah-  pengalamannya mengunjungi George Saa, pemuda pemenang Olimpiade Fisika di Papua. Gw tesentuh banget dan merasa amat sangat bersyukur saat membaca bagian Au Neko, tentang pengalaman Pandji di Kupang.

Tapi, menurut gw tualisan yang paling juara adalah soal #indonesiaunite dalam bab Dari Sebuah Ledakan Sampai Sebuah Perjalanan, dada gw bergemuruh. Trbentang betapa besarnya perasaan cinta terhadap negeri ini. Mungkin ini yang dirasakan pemuda zaman dahulu saat mendengarkan pidato Bung Karno. Dan satu lagi yang bikin gw meneteskan air mata adalah saat Pandji diundang Glenn Fredly untuk berbagi ceita di gerejanya. Dengan hormat, Glenn meminta Pandji mengucapa salam, Assalamualaikum, dan dibalas dengan  oleh jemaat gereja tsebut. Kalau membaca cerita ini, gw mau mengutip satu kalimatnya :

“Perdamaian itu akan terjadi bukan ketika umat Islam bisa membela hak beragama umat Islam, atau umat katolik bisa membela hak umat beragama katolik, atau Yahudi bisa membela hak sesama Yahudi. Perdamaian itu akan terjadi kalau umat Islam membela hak orang katolik, orang katolik membela hak umat Hindu, orang Hindu membela hak umat Yahudi, dan seterusnya.

Pandji menuliskan ini dari cerita Inayah Wahid yang menghadiri konvensi perdamaian antarumat beragama di Madrid.

Bab Nasional.Is.Me juga sangat menarik, lantarana membahas aksi nyata yang dilakukan anak-anak muda yang sangat inspiratif.  Mulai dari #Bolbal kaos, #Indonesia Bertindak, # Coin a Chance hingga C3, Community for Children with Cancer. Dan saat membaca bagian bahwa Pandji dengan rutin menyumbangkan darahnya, gw langsung teringat bahwa kalo elo sehat, elo akan bisa berbagi dengan yang lain.

Bab yang paling menggetarkan dada adalah “Dari Sebuah keyakinan Sampai Sebuah Keraguan” bahwa sejarah di negeri ini tak sepenuhnya sesuai dengan realita yang terjadi. Banyak “pahlawan” sesungguhnya justru dihilangkan. ini wajib dibaca, dibaca, dibaca -ya iya masa dimakan-

Buku ini awalnya hadir dalam bentuk e-book dan bisa diunduh gratis di www.pandji.com,  keinginan mulia Pandji yang didukung oleh  Sampoerna Foundation Membuat buku ini hadir dalam versi cetak. Dan saat lo beli buku ini, lo berarti menyumbang satu buku yang sama buat mereka yang tidak bisa punya akses untuk membaca buku ini. Dijual dengan harga 54ribu rupiah, ya kira-kira sama dengan empat bungkus rokok, rasanya ngga akan seberapa nilainya dibanding kekaguman lo terhadap negeri ini yang akan tumbuh usai membacanya.

Categories : Blog, Resensi Buku

Leave a Reply