Serdadu Kumbang
By
“Me time” gw salah satunya adalah menonton film sendirian, dan kalau ada film indonesia yg gw tonton biasanya filmnya Riri Riza, Alenia, Nia Dinata, Hanung Bramantyo atau Joko Anwar. Nah, film Serdadu Kumbang garapan Alenia ini sebenarnya temanya membumi banget, tentang bagaimana beratnya beban anak sekolah saat ini yang harus menghadapi ujian nasional. Nilai bagus atau juara kelas tidak menjamin seseorang bisa lulus ujian nasional.
Film yang dibuka dengan keindahan alam Sumbawa ini diperankan oleh aktris dan aktor yang ciamik. Suami gw sampai memuji Ari Sihasale yang berhasil menampilkan Putu Wijaya di film ini.
Putu Wijaya yang memerankan tokoh Papin, seorang tokoh masyarakat hadir dengan nasehatnya yang bijak. Tapi paling jempol itu aktingnya Titi Sjuman dan Asrul Dahlan yang berperan sebagai pasangan suami istri, Ibu dan Bapak dari Amek dan Minun, dua anak Sumbawa yang merasakan beratnya ujian nasional lantaran mutu pendidikan yang diseragamkan.
Tokoh Zakaria yang diperankan Asrul Dahlan, seorang TKI yang mengadu nasib di Malaysia membuat gw sampai gemessss banget. Gayanya selangit, dan selalu mengundang perhatian. Karakter Ibunda Amek, yang diperankan Titi Sjuman membuat gw makin yakin, Titi memang multitalenta -musik film ini digarap Titi dan Aksan Sjuman suaminya- Titi sangat menjiwai karakter perempuan kampung yang tidak bisa membaca, bahkan logat Sumbawanya terasa kental benar.
Sayang, meski sudah diperankan aktor dan aktris yang mumpuni, ada beberapa adegan yang menurut gw tidak ada korelasinya, misalnya kunjungan ke sekolah PT Newmont. Tapi patut diingat, film ini digarap dengan sponsor penuh dari PT Newmont, jadi mau tidak mau, suka tidak suka, penonton harus melihatnya. Menurut saya, hal ini tidak jauh berbeda saat laskar pelangi, dimana bagusnya fasilitas sekolah PN Timah juga ditunjukkan.
Adegan lain yang membingungkan adalah saat tokoh Amek diajak ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan terkait operasi bibir sumbing yang akan dijaaninya, saya kok melihatnya Nia Zulkarnaen terlihat canggung ya, padahal sebagai aktris yang namanya cukup besar -apalagi ditambah darah akting dari orangtuanya- Nia terlihat kaku sekali, adegan yang seharusnya cukup mengharukan ini jadi terlihat datar. Dan kenapa pemeriksaan tidak digambarkan di dalam ruangan rumah sakit ya, biar sekalian diperlihatkan betapa bagusnya fasilitas PT Newmont ini.
Tapi, apapun penilaian akan film ini, baik positif maupun negatif, Alenia wajib diapresiasi karena fokus dengan film anak-anak yang lokasi penggarapannya sangat tidak umum, saya masih menganggap Denias adalah master piece dari Alenia.
Btw, gw nonton Serdadu Kumbang dua kali, pertama kali sendiri, kedua sama sumi dan keponakan. Gw sih menyarankan kepada saudara- saudara gw untuk menontonnya biar mereka sadar dan bersyukur dengan fasilitas pendidikan yang mereka terima saat ini.
Hal yang paling menyebalkan dari film ini, kenapa jadi ngga sabar mudik ke Bima ya….