Merencanakan Kehamilan
BySaat gw menulis postingan ini, gw berusaha menahan air mata. Yeah i know it. Ternyata, ngga mudah untuk bisa punya anak, gw menyebutnya Long Road being a Mom.
16 April 2011 kemarin, gw resmi dua tahun menjadi istri dari suami gw, nah sesuai dengan komitmen gw sama suami bahwa ketika pernikahan kita menginjak dua tahun, kita akan lebih serius berusaha untuk punya anak. Bukan cuma usaha ritual itu, tapi lebih kepada mencari tahu dimana sebenarnya yang membuat gw tak kunjung hamil juga. Nah, setelah tanya sana sini dan menelusuri Mbah google, gw dengan persetujuan suami akhirnya memutuskan untuk mendatangi klinik Sammarie, salah satu kliniknya terletak di jalan Basuki rahmat sekitar Pondok bambu Jakarta Timur. Klinik ini dimiliki oleh Prof T.Z Jacoeb yang konon bertangan dingin (maksudnya banyak yang berhasil setelah ditangani beliau) Gw bikin janji di hari senin pagi untuk konsultasi di hari selasa sore. Nah, meski hari senin sudah mendaftar, selasa pagi harus daftar ulang lagi untuk memastikan nomor urut. Akhirnya jam 7 pagi hari selasa, gw langsung daftar dan dapat nomor enam. Aduh berarti yang sebelum gw daftar ulang jam berapa ya?
Di hari selasa sore gw langsung heboh, suami gw tahan dulu jangan sampai ke kantor sebelum mengantar gw (komitmen kita adalah harus selalu berdua dalam situasi seperti ini)Karena Profnya mulai praktek jam empat, maka gw memutuskan berangkat dari rumah jam setengah empat. Asumsinya sampai klinik jam lima sore. Dan ternyata saudara-saudara, Bekasi hari itu begitu manis, jam empat alias cukup tiga puluh menit gw dan suami sudah sampai. Setelah lapor dengan suster, cek tensi darah, timbang badan ditanya ini itu kira-kira 10 menitan gw sudah duduk manis di depan ruangan Profnya. Kebetulan profnya sudah datang sejak siang karena ada yang melahirkan. Dan saat itu baru gw sendiri aja yang datang. langsung bisa ketemu? hmm belum saudara-saudara. gw harus menunggu. Sampai jam setengah enam baru deh pasien-pasiennya berdatangan. karena masih nomor enam gw sama suami cabut cari makan di daerah Pondok Bambu. Sejam lebih kita makan di Pondok bambu, baru masuk pasien pertama.
Alamak…. kesabaran gw dan suami memang diuji banget ya. Gw dan suami pun menghibur “ah baru nunggu berapa jam, ini ngga sebanding dengan dua tahun penantian kita.” Akhirnya jam depan kurang lima menit gw dipanggil. Ah lega rasanya. Konsultasinya sih enak banget Profnya, sabar pula orangnya. Tidak terkesan menggurui. Prof meminta suami gw untuk berhenti merokok sementara -selama lima tahun maksudnya- dan beliau juga menganjurkan gw untuk menurunkan berat badan, karena kalau hamil, gw bisa lebih gemuk dan ngga bagus buat kesehatan. Setelah konsultasi, kemudian USG dalam gw diberi obat untuk pembersihan dan puasa dlu selama lima hari. Sambil diberikan segambreng kertas untuk pemeriksaan macam-macam.
Dari konsultasi dengan prof Jacoeb, disimpulkan adalah hormon gw tidak seimbang. Makanya dianjurkan untuk menurukan berat badan. Beliau sempat kaget saat gw kasih tahu kalo gw dulu pernah 45 kg, loh kenapa bisa bengkak begini hehehehehe… Pemeriksaan pertama dan obat itu menghabiskan biaya hampir 600 ribu. tentu saja ngga bisa direimburse.Profesor Jacoeb kemudian merujuk gw untuk berkonsultasi dengan dokter gizi.
Lima hari kemudian gw bertemu dengan dokter gizi, hasilnya adalah gw harus menurunkan berat badan minimal 1kg seminggu, trus dikasih daftar makanan yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi. Sederhana sesungguhnya, tapi memang berat banget. Yang ngga boleh dimakan itu mie, segala sesuatu yang mengandung tepung. makan terakhir itu jam 6-7 malam aja. Olahraga minimal 30 menit sehari.
Tapi itu ternyata belum cukup saudara-saudara, perjuangan gw masih amat sangat panjang. keringat, darah dan airmata harus terkuras disini… (Bukan lebay)
Sama mbak, aku skrg jg lg program. Sdh hampir diujung program, coz abis ini klo gak hamil jg, last step-nya adalah bayi tabung. Aduh……
Semoga berhasil ya, kalau aku memilih untuk pending dulu deh…. *nangis
saya baru menikah 1 tahun 2 bulan, sering membuka web dan membaca cerita dengan pengalaman yang sama, membuat saya lebih kuat karena ternyata saya tidak sendiri dalam penantian “Long Road to be a Mom” kalo kata mba Memez…
Semoga kita selalu punya kekuatan untuk berikhtiar, berdoa dan keyakinan yang kuat untuk mendapatkan berkah itu, semoga, amiennnn.
Tau ngga? justru komentar dari kamu begini yang bikin aku makin kuat. Bohong kalau awalnya ngga sedih, tapi mau bagaimana lagi? dinikmati saja. Percaya saja, seperti menikah, anak akan datang pada waktunya yang tepat
Thanks untuk blogwalkingnya