Feb
03

Kopi Pahit Pada 12 Mei Dinihari

By

Ini adalah cerita yang diposting pada blog saya yang lama, kejadiannya sekitar 12 Mei 2o09.

Tidak ada yang spesial saat saya merayakan pertambahan umur pada 11 Mei lalu. Keceriaan yang dihadirkan suami pada pergantian hari menuju 11 Mei, walau hanya dengan sepotong kue black forest serta helm berwarna pink, cukuplah membahagiakan saya.
Namun, kebahagiaan memperingati pertambahan umur berubah menjadi sebuah penderitaan. Pagi hari, saat akan berangkat ke kantor, dompet suami saya HILANG !!! Kami pun hampir membongkar seisi rumah demi menemukan dompet itu. Sambil membongkar isi rumah, saya mengingat-ingat kapan terakhir kali suami mengeluarkan dompet dari sakunya.
1. Di Cheesecake Factory -saat akan membayar kue, tapi urung dilakukan. Karena kemudian saya yang membayar kue yang kami beli.
2. Di restoran Bebek Ginyo -Tapi tak jadi, karena saya yang membayarnya-

Setelah membongkar seisi rumah hampir satu jam, ternyata dompet suami tak ditemukan juga. Akhirnya, dengan menelan kecewa dan kebingungan, saya dan suami meninggalkan rumah sambil berdoa agar dompetnya bisa ditemukan.
Suami saya berubah menjadi sangat amat gelisah. Ia terus memikirkan biaya dan kesulitan yang harus dialaminya saat mengurus sejumlah kartu yang ada di dompetnya.
Sebagai istri, saya terus menenangkan, bahwa saya punya keyakinan bahwa dompetnya akan kembali.
Hari itu, kami berdua beraktivitas hingga dinihari. Pukul 2 pagi, kami baru sampai rumah. Rasa penasaran yang membuncah membuat kami meneruskan pencarian dompet. Hampir satu setengah jam, dompet tak juga ditemukan. Namun, saya masih meyakini bahwa dompet tsb masih berada dalam rumah.
Suami pun sudah berencana jika dompet tersebut sudah ditemukan.
“Pokoknya harus beli dompet baru, karena ini sudah kali ketiga kejadian seperti ini. ”
” Kita memang kurang beramal sepertinya ”
-Kenapa ya, setiap dalam kesusahan baru sadar bahwa kita kurang berbagi???-

Namun, saat pencarian tengah dilakukan, suami tiba-tiba menyeletuk, “Coba bikinin kopi pahit tanpa gula, setengah cangkir aja. Kayaknya ada yang mau ngopi nih, makanya jahil” perintahnya pada saya.
“Gini hari minum kopi, nanti ngga bisa tidur loh… Apalagi nanti kan mau berangkat pagi. Lagian ngga ada kopi item biasa, adanya coffeemix atau cappucino sachet,” jawab saya. Karena permintaannya tak direspon, akhirnya kami tidur.
Jam 7 pagi, suami sudah bersiap-siap berangkat kerja. Karena teringat aqua galon sudah habis, saya meminta suami menelepon toko aqua, untuk diantar ke rumah.
Saat sedang mengganti galon aqua, tiba-tiba suami berteriak kegirangan karena menemukan dompetnya. Saya yang masih tertidur, langsung terbangun. Saya dan suami pun terhenyak. Seharian penuh, kami mencari dompet itu, tapi tak menemukan. Sejuta tanda tanya berkecamuk dalam benak kami :
Mengapa kami tak melihat dompet itu, padahal letaknya di atas dispenser yang jaraknya hanya sepandangan mata dari kamar??? Dan kami sudah membongkar seisi rumah, dan tidak melewatkan satu titik pun.

Hmmm… Benarkah ada yang ingin menyesap kopi tapi berbuat jail???
Suami bilang : Baru dipancing akan disediakan kopi pahit saja, sudah “dimunculkan” dompet itu.

+ sebuah kisah unik dari perjalanan rumah tangga yang baru saya jalani +

Categories : Blog

Leave a Reply