Oct
29
Belajar Dari Mbah Maridjan
By
Beliau mengajarkan arti pemimpin sesungguhnya
Meletusnya gunung Merapi pada 26 Oktober 2010 menjadi penutup dari perjalanan hidup Mbah Maridjan. Kuncen gunung Merapi yang diangkat oleh Sultan HB IX sejak 1982 ini benar-benar menunaikan tugasnya sebagai penjaga gunung Merapi, apapun kondisinya Mbah Maridjan menepati janjinya untuk tetap berada di gunung Merapi. Semburan awan panas membuat rumah Mbah Maridjan yang terletak di dusun Kinahrejo menjadi sasaran. Dan Subhanallah, Mbah Maridjan ditemukan meninggal dalam posisi bersujud. Posisi yang sungguh mulia, menandakan almarhum dalam keadaan memohon pengampunan.
I’m Not Handsome, Kok banyak yang mau foto sama saya?
Ungkapan polos itu meluncur dari mulut Mbah Maridjan saat saya mewawancarainya di sebuah restoran ayam goreng Suharti, awal 2007 dalam acara Sido Muncul, perusahaan jamu yang kemudian menunjuknya sebagai ikon.Saat itu, sosok Mbah Maridjan begitu dielu-elukan, tapi ternyata beliau merasa risih akan hal itu. Sesekali pergi ke Jakarta dalam rangka syuting, sosok Mbah Maridjan tidak banyak berubah. Popularitas dan harta tidak membuatnya mabuk kepayang.
Sosok Mbah Maridjan memang baru dikenal publik saat Merapi akan meletus tahun 2006. Saat itu, meski Merapi sudah beberapa kali mengeluarkan wedhus gembel, Mbah Maridjan enggan dievakuasi, meski Sultan HB X membujuknya. Mbah Maridjan ingin benar-benar menunaikan amanat sebagai penjaga Merapi seperti yang dititahkan oleh Sultan HB IX.
Dan kini Si Mbah sudah pergi, sudah menghadap sang pencipta, menjalani kehidupannya di dunia fana. Dan si Mbah benar-benar menepati janjinya, menjaga Merapi sampai akhir hayatnya. Inilah sosok pemimpin yang benar-benar akan dirindukan rakyatnya… Tapi maaf, sungguh berlebihan rasanya jika ada segolongan orang memutuskan Mbah Maridjan menjadi pahlawan nasional, Mbah Maridjan tidak butuh hal seperti itu. Dia ingin dihormati seperti biasa, tidak berlebihan.