Mar
08

Saya, Tamie Pepeng, dan Titiek Puspa

By

Bukan sebuah kebetulan jika dua perempuan yang akan saya bicarakan ini berinisial sama, yakni  TP. Tamie Pepeng (Istri dari presenter Pepeng) serta Titiek Puspa adalah dua orang perempuan yang berhasil membuat saya malu akan diri saya sendiri. Dalam dua kesempatan terpisah, saya bertemu dengan dua perempuan yang dalam pertemuan singkat berhasil menggores perasaan saya hingga ke hati terdalam.

Senin, 11 Januari 2010

Karena mentok di urusan lobby dengan narasumber, saya terpaksa “turun tangan”. Ya, di senin siang setelah selesai siaran, saya mendatangi rumah Pepeng, seorang presenter kondang yang kini terbaring di tempat tidur karena penyakit Multiple Sclerosis -Tapi, beliau tidak terbaring lemah ya, beliau tetap punya spirit yang sangat tinggi- berbekal kue bolu ketan hitam buatan saya sendiri, saya mendatangi rumahnya di daerah Cinere. Di rumah yang nyaman dan asri itu, seorang perempuan dengan rambut keriting beruban menyambut saya. Setelah memperkenalkan diri, ooohhhh ternyata ini toh istrinya Mas Pepeng. Saya memanggilnya Mba Tamie, lengkapnya Tamie Pepeng -meski nama aslinya adalah Utami-

Ditemani secangkir teh serta beberapa toples makanan kecil, saya mengutarakan niat untuk meminta Mba Tamie sebagai narasumber untuk acara Expose Klarifikasi yang saya produseri. Di acara yang tayang setiap Jumat pukul 13.30- 14.00 di tvOne ini, saya ingin menghadirkan Mba Tamie karena begitu menarik ceritanya saat  merawat Mas Pepeng. Hampir lima tahun, Mas Pepeng hanya bisa melewatkan waktu di tempat tidur. Otomatis, tugas Mas Pepeng sebagai kepala keluarga tidak bisa dilaksanakan sepenuhnya, tapi Allah memang maha pemurah. Buktinya, hingga saat ini keluarga mereka tidak kekurangan suatu apapun. Mas Pepeng tidak berobat secara medis, namun memilih pengobatan alamiah. Seminggu dua kali, seorang Shinse mendatanginya untuk terapi pernafasan. Untuk makanan pun, Mas Pepeng tidak pantangan khusus, karena penyakit ini bukan disebabkan makanan. Alhamdulillah, kini sudah mulai ada kemajuan dari terapi yang dilakukan oleh Mas Pepeng. Karena Mas Pepeng tidak bisa turun dari tempat tidur, urusan merawat jelas urusan Mba Tamie, istrinya. Mendengar cerita Mba Tamie  tentang perjuangannya merawat Mas pepeng, Astagfirullah, air mata saya langsung menetes. Saya merasa diri saya amat keterlaluan. Saat itu, suami saya tengah sakit thypus, dan saya seringkali mengeluh dan marah-marah karena suami saya begitu cerewet dan menuntut banyak perhatian. Saya MALU….MALU SEKALI. Sementara saya baru beberapa hari merawat suami sudah mengeluh, Mba Tamie sudah bertahun-tahun merawat Mas Pepeng, dan begitu menikmatinya. Terima Kasih ya Mba Tamie, yang tetap terlihat cantik walau begitu banyak kesulitan hidup yang terus menantangnya. Pengalaman Mba Tamie saat merawat Mas Pepeng bisa dinikmati di buku That”s All, Inspiratif banget bukunya. Buat yang suka mengeluh tentang pasangannya, wajib baca buku ini.

Syuting Expose Klarifikasi akhirnya dilangsungkan pada 19 januari 2009, Mba Tamie begitu antusiasi. Saat ditayangkan pada Jumat 22 Januari, begitu banyak respon positif yang saya terima.

Selasa, 19 januari 2010

Hari ini saya mendatangi rumah Tante Titiek Puspa di bilangan Pancoran Jakarta Selatan. Sudah cukup lama, saya tidak turun ke lapangan. Tante Titiek belum lama ini menjalani perawatan di Mount Elizabeth singapura karena penyakit kanker rahim yang dideritanya. Setelah kembali dari Singapura, Tante Titiek meluangkan waktunya untuk bertemu dengan rekan-rekan wartawan, termasuk saya. Namun, setelah bertemu Tante Titiek, saya kok heran ya? Beliau kan sakit, tapi tidak tampak rasa sakit atau bahkan sisa-sisanya. Tante Titiek tetap ceria, tetap gembira, tetap Titiek Puspa yang saya kenal dan saya kagumi. Sementara, saya saja saat sakit kepala sudah sebal setengah mati. Sementara beliau terlihat nrimo dengan penyakit kanker rahimnya. Di kesempatan itu pula, saya bertemu dengan sahabat-sahabat Tante Titiek, diantaranya Linda Djalil (seorang wartawan senior), Elly Kasim, serta Dewi Motik. Sisi lain seorang Titiek Puspa pun berhasil saya korek dari mereka. Berbagai cerita menarik hingga lucu pun meluncur dari pengakuan ketiga sahabatnya tersebut.

Linda Djalil mengisahkan masa kecilnya yang banyak dihabiskan di rumah Titiek Puspa di jalan Sukabumi Menteng. Di rumah yang hanya seluas 100 meter persegi itu, banyak keluarga Titiek tinggal bareng. Namun, Linda merasa tak pernah ada kesulitan yang ditampakan Tante Titiek. Padahal, sebagai penyabi, waktu itu Tante Titiek belum begitu berkecukupan seperti saat ini. Dan yang tak terlupakan bagi Linda adalah saat melihat Tante Titiek tidur, mukanya tengadah, katanya itu resepnya awet muda. Mendengar Tante Titiek sakit, Linda pun menciptakan sebuah lagu yang berjudul “Wanita” lagu ini sudah direkam ulang dan dinyanyikan oleh Binu Sukaman. dalam waktu dekat, lagu ini akan dipublikasikan.

Cerita dari Elly Kasim beda lagi. Elly yang seringkali pergi ke luar negeri dalam rangka misi kebudayaan bercerita tentang kebiasaan Tante Titiek yang disebutnya Miss Matching. SEmua yang dikenakannya terlihat serasi, dari ujung rambut sampai ujung kaki diperhatikannya. Namun, saat di Spanyol, karena tempat makan yang jauh, rombongan ini harus berjalan kaki, Tante Titiek justru tak mengeluh, justru di sepanjang jalan Tante Titiek bernyanyi. Dan kebiasaan Tante Tante saat tidur adalah tidak boleh ada suara  sama sekali.

Cerita paling menggelikan justru datang dari Dewi Motik. dari ceritanya, saya berkesimpulan Tante Titiek adalah orang yang amat spontanitas dan nekat. Saat hari pemilihan presiden 2009 lalu, Tante Titiek tahu-tahu sudah berada di rumah Bu Dewi dan memaksanya untuk mengantarkan ke Cikeas, untuk mengucapkan selamat kepada Pak SBY. Padahal, saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 19.30, namun karena Tante Titiek “memaksa”  Bu Dewi akhirnya berangkat menemani Tante Titiek. Sesungguhnya, pintu gerbang kediaman Pak SBY sudah ditutup. namun melihat Tante Titiek dan Bu Dewi yang datang, Paspampres yang berjaga pun membukakan pintu. Setelah  berfoto dan mengucapkan selamat, Tante Titiek dan Bu Dewi pun pulang. Karena kelaparan, Tante Titiek pun berhasil merayu pemilik sebuah restoran untuk tetap buka meski waktu sudah larut malam. Bu Dewi menceritakan hal ini sampai terpingkal-pingkal.

Categories : Blog

Leave a Reply