posted by on Blog

10 comments

 photo SANDUNG2_zps319344bd.jpg

Sapaan penuh semangat dari Redes Nehang, kepala desa Bangkal, menyambut saya di desa yang berjarak dua jam perjalanan dari Kuala Pembuang, Ibukota kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah ini. Kedatangan saya yang diantar dengan Didik, kepala humas kabupaten Seruyan serta  Rusnah, Camat Seruyan, membuat saya dengan leluasa menggali tradisi serta adat istiadat yang ada di desa tempat masyarakat suku Dayak Temu ini bermukim.

Lokasi pertama yang saya kunjungi adalah Sandung, yang merupakan kompleks pemakaman suku Dayak Temu ini. Lahannya cukup luas dengan berbagai bangunan khas yang menjadi penyimpanan jenazah. Sejumlah bangunan yang ada dihiasi dengan ukiran dan patung yang artinya sejalan dengan orang yang dimakamkan tersebut. Saat melihat-lihat bangunan tersebut, Redes memperingati saya dan dua  orang teman yang bersama  saya untuk menjaga perilaku. Misalnya jangan tertawa atau bercanda, karena konon sudah ada sejumlah orang yang jatuh sakit karena bersikap tidak sopan saat berada di Sandung ini. Wah… saya yang tadinya sempat tertawa, kemudian langsung diam seribu bahasa. “Tenang saja, karena kalian ditemani sama kami, jadinya sudah dipamitin,” kata Redes seakan memahami kekhawatiran saya.
 photo SANDUNG5_zpsc8a5d199.jpg

Di desa Bangkal ini terdapat beberapa Sandung yang berasal dari peninggalan tetua adatnya. Kalau sekarang sandung dibuat dari bahan bangunan modern seperti semen, pasir dan batako, Sandung dahulu dibuat dari kayu. Bahkan, ada Sandung yang sudah berumur ratusan tahun dan tetap kokoh. Luar biasa memang.
 photo SANDUNG7_zps3f55be00.jpg

Saat saya sedang mengobrol dan menunjukkan ketertarikan saya akan tradisi sandung ini, seorang pemuka adat mendatangi kami. “Wah rezeki nih, ada yang meninggal sudah tiga bulan dan sedang menanti Tiwah,” katanya dengan antusias. Hah, rezeki bertemu jenazah? Wah, awalnya saya sempat bergidik ngeri, seperti apa jenazah yang sudah tiga bulan disimpan di rumahnya ini.

Rombongan kecil kami kemudian mengarah ke sebuah rumah khas Dayak yang terletak tak jauh dari Sandung tersebut. Rumah yang keseluruhannya terbuat dari kayu itu, dibiarkan tanpa sekat. Saya kemudian dikenalkan kepada Darsih, pria pemilik rumah. Saya pun bertanya di mana jenazah almarhum istrinya disimpan. Ternyata, di samping televisi, terdapat sebuah kayu yang berasal dari pohon durian utuh dan dibentuk menjadi peti jenazah dengan ukiran dan lukisan khas Dayak. Pertanyaan kemudian menyergap saya, mengapa jenazah yang disimpan sejak pertengahan Juni itu tidak bau? (Saya datang ke sana di awal September, berarti jenazah sudah disimpan tiga bulan) Rahasianya terdapat pada kayu utuh yang dibentuk dengan begitu istimewa, hingga ada saluran pembuangan kotorannya. Tak ada formalin atau zat kimia apapun yang digunakan untuk mengawetkan jenazah ini.
 photo SANDUNG6_zps85fc1546.jpg

Sebagai bentuk perhatian dan kesetiaan pada istrinya,  Darsih meletakkan benda-benda kesayangan sang istri. Dan, setiap hari Ia mengasapi jenazah istrinya dengan kayu gaharu yang dibakar dan dikipasi dengan daun khusus. Mengipasinya pun harus dengan tangan kiri, tidak sembarangan mengipasinya juga. Sebagai tamu, saya pun diminta untuk mengipasi, sebagai tanda penghargaan mereka kepada tamu. Selain itu, saya juga sempat disuguhi baram, minuman khas Dayak yang terbuat dari rempah-rempah dan lama-kelamaan berkadar  alkohol. Namun, baram yang disuguhi pada saya dan dua rekan saya, ternyata masih baru, jadi belum berkadar alkohol dan sekadar terasa hangat seperti air jahe.
 photo SANDUNG4_zps751aa07a.jpg

Bukan suguhan yang menarik hati saya, tapi perhatian dan kesetiaan darsih pada almarhum istrinya yang sudah tidak bernyawa.  Rasa kehilangan besar yang tampak di wajah tuanya tak membuatnya larut dalam duka. Darsih justru tengah menyiapkan acara besar untuk menghormati sosok istrinya. Ya, Darsih menanti Tiwah.

 photo SANDUNG3_zpsd677e2e9.jpg

Sampai waktunya Tiwah tiba, jenazah ini tetap  akan disimpan. Yang dihitung-hitung menurut hari baik, jatuh pada 11 Oktober lalu. Saat acara Tiwah digelar, sebuah perhelatan besar pun berlangsung. Sejumlah  kerbau dipotong sesuai kemampuan empunya acara,  untuk disajikan kepada tetamu. Dan kepalanya dikubur dengan sandung tersebut. Dahulu, sebelum ada kesepakatan antara tetua adat, kepala manusia yang digunakan untuk acara Tiwah ini. Digunakannya kepala manusia dalam acara Tiwah bisa dilihat di Sandungnya. Biasanya terdapat sebuah kayu kecil sebagai penanda.
 photo SANDUNG7_zps3f55be00.jpg

Komplek pemakaman Sandung dan acara Tiwah menjadi tradisi khas masyarakat Dayak yang tentu saja menarik untuk diketahui dan disaksikan oleh turis lokal maupun mancanegara. Walau saya belum pernah menyaksikan langsung acara Tiwah, saya merasa beruntung sekali bisa melihat jenazah yang disimpan berbulan-bulan, tanpa bau.

==========================================================================================

Foto Darsih menanti Tiwah ini ternyata menjadi salah satu nominasi The Most Inspiring Social Media Reporter, kontes yang digagas oleh Telkomsel. Maka, mohon bantuannya untuk memberikan vote pada foto saya ini. Caranya mudah saja :

1. Buka www.telkomsel.com/youreverydaydiscoveries

2. Ada pilihan sign in dengan twitter atau facebook. saran saya, lewat Twitter saja.

3. Nah, kemudian cari kategori Travel, lihat foto paling kanan. Judulnya I’m Always Here dari Memez Heidy Prameswari, kemudian klik kotak merah di dalamnya. Dan akan muncul tulisan “I have voted Memez Heidy Prameswari… dsbnya” jangan lupa mention saya ya di @rumahmemez

4. Terima kasih atas bantuan votenya, salam sayang dari saya :)

posted by on Blog, Petualangan Lidah

8 comments

 photo BEGADANG_zpsb96d53a0.jpg

 

Begadang jangan begadang

Kalau tiada artinya

Begadang boleh saja,

Kalau ada perlunya….

Ah… tetiba teringat Bang Rhoma melantunkan lagu ini. Tapi, percaya deh rumah makan Begadang yang saya tuliskan disini bukan bagian dari lagunya Rhoma Irama ini.

Jadi, ada ungkapan belum ke Lampung kalau belum makan di Begadang. Apa benar? entahlah, yang jelas, saya dan Miswa yang merupakan die hardnya RM Padang, merasa pantang melewatkan makan disini. Sebenarnya sih, dari Bakauheni ada RM Begadang juga, tapi karena masih kenyang saat ngemil di kapal, jadilah kami memilih makan di RM Begadang 4 dekat hotel kami di POP Hotel.

Tapi, sebenarnya apa sih yang bikin wajib makan di RM Begadang ini kalau ke Lampung? Karena sambal ganjanya!!!

|| Read more

posted by on Blog, Petualangan Lidah

10 comments

 photo JUMBO4_zpsc2e22aee.jpg

“Semakin keras usaha maka semakin nikmat hasilnya”

Pernah dengar pepatah di atas? belum pernah dengar? Ya wajarlah, saya baru saja mengarangnya kok :)

Jadi, petualangan lidah saya di Bandar Lampung kemudian membuat saya mencari restoran seafood yang namanya Jumbo Kakap, di jalan Kakap. Tapi, ndilalahnya bolak-balik, muter-muter sampai lebih dari lima kali kok ngga ketemu. Padahal, suami sudah menggunakan aplikasi waze sebagai penunjuk jalan.

Muter-muter ngga jelas ditambah perut yang keroncongan luar biasa, membuat emosi memuncak dan kesabaran akhirnya habis  juga. Kemudian saya bilang, ya sudah pokoknya ini nanya yang terakhir kali, saya kemudian menghampiri tukang becak yang menunjukkan ke arah jalan perumahan dan gelap.

“Beneran nih, kalau ngga ketemu makan di hotel aja,”  ancam  suami. Sesungguhnya saya dagdigdug luar biasa, kalau ngga ketemu, bisa  gagal makan seafood di restauran yang konon paling hitz se Bandar Lampung ini. Dari jalan pintu masuk komplek perumahan tidak terlihat ada tanda-tanda restauran besar, hanya sebuah penunjuk panah dari kertas yang mengharuskan belok kanan. Duh, alamat makan di hotel nih pikir saya….

Pendar lampu jalanan kemudian mengantarkan kami ke sebuah bangunan besar dengan parkiran luas yang dihiasi sebuah plang bertuliskan Jumbo Seafood . “Ah, akhirnya ketemu juga nih,” kata saya sambil meminta cacing-cacing di perut untuk bersabar.  Tapi, apakah perjuangan saya dan saumi yang sudah berputar-putar untuk menemukan Jumbo Seafood ini sebanding dengan rasanya?

|| Read more

posted by on Blog, Petualangan Lidah

19 comments

 photo BAKSO_zpsaf52ff5c.jpg

 

Bagaimana mengukur percampuran budaya di sebuah daerah di Indonesia? Teori ngasal saya sih lihat saja makanan yang khas atau terkenal di daerah tersebut. Sebagai food traveler -petualangyanghobinyamakanmelulu-  salah satu makanan yang menurut saya menjadi bukti percampuran budaya dan kemudian saya jadikan tolok ukur adalah bakso.

Kenapa bakso? Dari pengalaman saya selama ini makan bakso di sejumlah daerah di Indonesia, kebanyakan pedagang bakso berasal dari pulau Jawa dan kemudian menetap dan beranak pinak di daerah tersebut.

Dan, bakso  yang menjadi salah satu makanan terkenal dan kemudian menjadi ikon kuliner di Lampung yang jaraknya hanya selemparan batu dari Pulau Jawa adalah bakso Sonhaji – Sony. Makanya, waktu berkunjung ke Lampung akhir Agustus lalu, saya sempatkan banget untuk mencicipi bakso Sonhaji – Sony yang terkenal di seantero Lampung.

|| Read more

posted by on Blog

10 comments

 photo WARUNGTINGGI9_zpsb6c7b3bf.jpgBekerja di stasiun tv yang isinya dipenuhi dengan berita politik dan peristiwa terkini, membuat  saya dan teman-teman satu team harus seringkali melakukan hal-hal di luar kebiasaan biar ngga jenuh. Seperti  ketika memilih tempat untuk meeting. Biasanya sih meeting di kantor alias di kawasan Pulogadung -kesannya jauh dari peradaban ya :))) –  Tapi, suatu hari kita memutuskan untuk meeting di daerah pusat kota, alias di Grand Indonesia. Alasannya sib pingin ngopi di Koffie Warung Tinggi ini.

|| Read more